
UPdates—Senator Chris Murphy (D-CT) melontarkan kata-kata keras kepada Presiden Donald Trump pada hari Kamis waktu setempat, menyebutnya sebagai orang tua pikun yang memulai perang yang tidak koheren.
You may also like :
Mojtaba Khamenei Jadi Pemimpin Tertinggi Baru Iran, IRGC Ikrarkan Janji Setia
Sejak presiden Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memulai perang di Iran pada 28 Februari dengan serangan yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei dan puluhan pejabat tinggi, Murphy menjadi salah satu kritikus yang paling vokal.
You might be interested :
Obama Tanggapi Video Rasis Dirinya Kera yang Dibagikan Trump
Sekitar 1.300 warga Iran telah tewas dalam pemboman berikutnya. Iran telah merespons dengan menyerang Israel, instalasi militer AS di wilayah tersebut, dan secara efektif menutup Selat Hormuz yang vital, yang telah mengacaukan pasar minyak. Tujuh anggota militer AS telah tewas sejauh ini, dengan puluhan lainnya terluka.
Pada Kamis malam waktu AS, CNN menayangkan cuplikan Murphy berbicara kepada wartawan di Capitol, di mana ia mengecam Trump.
“Ini adalah perang paling tidak kompeten dan tidak koheren yang pernah Amerika alami dalam 100 tahun terakhir. Dan itu sudah cukup menggambarkan situasinya. Pemerintahan ini tidak tahu apa yang mereka lakukan. Tidak ada rencana perang yang layak. Mereka mengubah tujuan dan sasaran mereka setiap hari,” tegasnya sebagaimana dilansir Keidenesia.tv dari NewsBreak, Jumat, 13 Maret 2026.
“Saya sangat bersimpati kepada para prajurit dan pemimpin militer kita. Mereka diberi arahan oleh seorang pria tua pikun yang kehilangan akal sehatnya. Jadi, tidak mengherankan jika perang ini berjalan dengan buruk,” lanjutnya.
Harga minyak telah melonjak hingga hampir $100 per barel sejak perang dimulai, begitu pula harga bensin.
Minggu ini, Trump mengatakan kepada operator kapal tanker minyak untuk menunjukkan keberanian melintasi Selat Hormuz yang sangat berbahaya.
Setidaknya 16 kapal tanker dan kapal kargo telah terkena serangan sejak perang dimulai pada 28 Februari. Sebagian besar kapal tersebut berada di Selat Hormuz saat terkena serangan, tetapi kapal-kapal di Teluk Persia dan Teluk Oman juga telah menjadi sasaran.