
UPdates—Sebuah drone bertenaga jet milik Rusia menghantam kereta penumpang rute Kyiv-Warsawa yang berjarak hanya dua kilometer dari Polandia—negara anggota NATO—pada hari Minggu, 13 September.
You may also like :
Jenderal Nuklir Top Rusia Kritis Ditembak di Wajah, Pelaku Naik Motor, Diserang di Luar Rumahnya
Serangan itu terjadi tak lama setelah kereta diplomatik yang membawa mantan Perdana Menteri Inggris Boris Johnson dan tokoh senior Barat lainnya melintasi stasiun yang sama.
You might be interested :
Intelijen Ukraina Sebut 8 WNI Jadi Tentara Bayaran Rusia, Ini Respons Kemlu dan DPR
Kereta tersebut mengangkut 206 penumpang. Tidak ada korban luka setelah tim pemantau Ukrzaliznytsia mendeteksi drone yang mendekat dan memperingatkan awak kereta, sehingga memungkinkan penumpang untuk mengevakuasi diri.
Operator kereta api negara Ukraina menyatakan bahwa kereta diplomatik itu sendiri kemungkinan besar merupakan target yang sebenarnya.
"Sangat mungkin bahwa target drone Rusia tersebut adalah kereta diplomatik, yang berangkat dari stasiun lebih awal dari jadwal semula setelah pengaturan waktu perjalanan disesuaikan secara real-time akibat ancaman serangan Rusia yang terus-menerus," ungkap Ukrzaliznytsia sebagaimana dilansir Keidenesia.tv dari Kyiv Post, Senin, 14 September 2026.
Johnson dan mantan Perdana Menteri Swedia Carl Bildt saat itu sedang dalam perjalanan pulang dari sebuah konferensi di Kyiv. Mantan Direktur CIA David Petraeus juga berada di dalam kereta lain di stasiun tersebut saat serangan terjadi.
Johnson mengecam serangan tersebut sebagai contoh lain dari serangan yang dihadapi rakyat Ukraina setiap harinya.
"Saya tidak tahu logika menyimpang apa yang mendorong Putin meledakkan lokomotif Ukraina yang sedang berhenti di perbatasan Polandia pagi ini," tulis Johnson.
“Yang bisa kita pastikan adalah bahwa ini merupakan jenis serangan acak dan tidak masuk akal yang harus dihadapi warga Ukraina setiap hari—bahkan terhadap jalur kereta api sipil,” lanjutnya.
Bildt mengatakan kereta yang terkena serangan itu melintas hanya berselang beberapa menit di belakang keretanya.
“Itu bukan kereta kami, melainkan kereta yang melintas beberapa menit setelah kami di dekat perlintasan perbatasan Polandia. Kereta itu dievakuasi saat pesawat nirawak (drone) Rusia mendekat dan tidak ada korban luka. Sistem keselamatannya sangat baik,” tulisnya.
Keretanya sendiri juga sempat disiagakan untuk evakuasi.
“Di kereta yang saya tumpangi, kami menerima perintah untuk bersiap evakuasi setelah kereta berhenti. Namun, beberapa menit kemudian, kami diberi tahu bahwa situasi sudah aman dan kami bisa melanjutkan perjalanan,” ungkapnya.
Serangan terhadap kereta api tersebut merupakan bagian dari serangan Rusia yang lebih luas di dekat perbatasan Ukraina dengan Polandia.
Sebuah pesawat nirawak lainnya menghantam truk sekitar 800 meter dari perlintasan Yahodyn-Dorohusk, yang sempat mengganggu operasional dan membuat serangan Rusia terjadi pada jarak kurang dari satu kilometer dari wilayah NATO.
Menteri Luar Negeri Ukraina Andrii Sybiha mengatakan serangan-serangan ini harus menjadi peringatan langsung bagi sekutu Ukraina.
“Ini adalah teror Putin yang ‘mengetuk’ langsung pintu Uni Eropa dan NATO. Kaum barbar Rusia sudah berada di depan gerbang kalian, wahai mitra sekalian,” katanya.
Sybiha mengatakan Rusia harus menghadapi konsekuensi yang cukup berat untuk mengubah kalkulasi Moskow.
“Putin perlu memahami bahwa tindakan barbarismenya akan dibalas dengan langkah tegas yang meningkatkan biaya perang baginya hingga ke tingkat yang tak tertahankan. Hanya inilah cara untuk menghentikannya,” tegasnya.
Polandia Meningkatkan Kesiagaan
Kedekatan lokasi serangan memicu respons segera di Warsawa. Menteri Luar Negeri Polandia Radoslaw Sikorski menyebut peningkatan serangan Rusia di ambang pintu NATO sebagai sebuah “eskalasi,” sementara Perdana Menteri Donald Tusk mengadakan pertemuan darurat dengan para pejabat senior pertahanan dan keamanan.
“Eskalasi tindakan Rusia kini menjadi kenyataan, dan dampaknya semakin mendekati perbatasan kita,” kata Tusk.
“Upaya melumpuhkan jalur penyeberangan perbatasan bukanlah insiden pertama semacam itu,” tegasnya.
Wakil Menteri Pertahanan Polandia, Cezary Tomczyk, mengatakan bahwa 13 serangan terpisah tercatat di wilayah Ukraina barat dalam serangan pada Minggu pagi tersebut.
Tusk secara khusus menyoroti meningkatnya penggunaan pesawat nirawak (drone) bermesin jet oleh Rusia sebagai ancaman yang kian berkembang.
“Serangan malam ini menunjukkan bahwa pihak Rusia bersedia menggunakan teknologi yang lebih berbahaya dibandingkan sebelumnya. Maksud saya adalah drone bermesin jet,” ujarnya, seraya menunjuk pada jangkauan dan akurasi teknologi tersebut.
"Kita harus menyadari bahwa mulai hari ini kita akan beroperasi dalam status siaga yang jauh lebih tinggi. Kita tidak bisa mengesampingkan kemungkinan bahwa eskalasi ini juga akan berdampak pada wilayah kita," tambah Tusk.
Menteri Pertahanan Polandia Władysław Kosiniak-Kamysz menyatakan bahwa pesawat nirawak (drone) Rusia tidak melanggar wilayah udara Polandia, namun Warsawa mengaktifkan sistem pertahanan udara dan pengintaian sebagai langkah pencegahan.
Tomczyk menegaskan bahwa kemampuan Ukraina untuk menghentikan serangan Rusia sebelum mencapai wilayah yang lebih jauh ke barat berkaitan erat dengan keamanan Polandia sendiri.
"Setiap rudal yang dihancurkan dan setiap drone yang ditembak jatuh [di Ukraina] berarti satu ancaman yang tidak melaju lebih jauh," ujarnya.
Kementerian Pertahanan Rusia mengklaim pihaknya menargetkan infrastruktur yang digunakan untuk mengangkut logistik militer dari Eropa.
Namun, serangan pada hari Minggu menghantam kereta penumpang sipil di salah satu jalur penghubung terpenting Ukraina dengan Uni Eropa, sementara serangan kedua terjadi di dekat titik penyeberangan perbatasan utama.
Presiden Volodymyr Zelensky menyebut serangan di wilayah perbatasan itu sebagai tindakan yang disengaja dan memperingatkan bahwa Moskow akan terus mengarahkan perangnya ke wilayah perbatasan Eropa kecuali jika Ukraina mendapatkan sistem pertahanan udara yang lebih kuat.