
UPdates—Terpidana mati AS, Christa Pike telah sadar dari koma dan dapat berbicara sembari diborgol ke ranjang rumah sakitnya, setelah selamat dari tujuh suntikan mematikan.
You may also like :
Pagi yang Mengerikan di Louisiana, Eks Tentara AS Tembak Mati 7 Anaknya dan 1 Anak Tetangga
Pengacaranya menyebut ini kejadian yang nyaris mustahil dan melampaui semua perkiraan.
You might be interested :
7 Suntikan dan Terpidana Mati Masih Hidup, Pengacara Minta Hukuman Diringankan karena Sudah “Disiksa”
"Melampaui segala perkiraan, Christa Pike sadar, dapat berbicara, dan terus menerima perawatan medis intensif," ujar pengacaranya sebagaimana dilansir Keidenesia.tv dari Metro, Rabu, 7 Oktober 2026.
Menurut pengacaranya, meskipun mengalami kerusakan parah pada lengannya, ia tetap diborgol dan dirantai ke ranjang.
“Pemulihannya merupakan hal yang belum pernah terjadi sebelumnya secara medis. Prognosisnya masih belum jelas, namun setidaknya kami memperkirakan proses pemulihan yang panjang," jelasnya.
Para pengacaranya menyatakan rasa terima kasih kepada petugas tanggap darurat dan tim medis di rumah sakit.
"Yang memperlakukan Christa layaknya manusia dan memberikan perawatan luar biasa kepadanya," ucap pengacara.
Pernyataan tersebut merupakan indikasi pertama bahwa kondisi Pike telah membaik sejak ia dibawa dengan ambulans dari penjara di Nashville pada hari Rabu lalu.
Pike selamat dari dua dosis pentobarbital saat pejabat Tennessee berupaya melaksanakan hukuman mati terhadapnya dengan setidaknya 7 upaya suntikan.
Akankah Christa Pike Dieksekusi Lagi?
Hal ini belum jelas, namun Dr. Joel Zivot, seorang profesor anestesiologi, mengatakan bahwa perkembangan ini menandakan prospek pemulihan yang baik.
Namun, ia menambahkan, mungkin butuh waktu berminggu-minggu atau berbulan-bulan sebelum diketahui secara pasti bagaimana pemulihannya akan berlangsung, serta apakah kompetensi mentalnya dapat pulih hingga ke tingkat yang memungkinkan negara bagian untuk mencoba mengeksekusinya kembali.
"Dia masih berada di ICU," ujarnya.
Joel Zivot menyebut Pike telah pulih sampai pada tahap di mana dia bisa lepas dari ventilator dan mampu berbicara.
“Namun saya sama sekali belum bisa menyatakan bahwa dia bebas dari risiko serius lebih lanjut,” jelasnya.
"Masih banyak hal buruk yang bisa terjadi di sini, bahkan ketika semua pihak menjalankan tugas mereka dengan baik," lanjutnya.
Eksekusi Gagal Setelah Dua Suntikan
Sebelum dosis diberikan sekitar pukul 19.27, Pike diikat pada brankar dan dilaporkan sempat berkata, "Saya akan meninggalkan dunia ini dengan cara yang sama seperti saat saya menghabiskan sebagian besar hidup saya, yaitu dalam keadaan penuh cinta."
Dia kemudian tetap sadar dan pada satu titik bertanya apakah lengannya memang seharusnya terasa seperti itu.
Pada pukul 20.26, para saksi eksekusi melaporkan bahwa dosis kedua pentobarbital telah diberikan.
Pike kemudian terdengar mendengkur sebelum mikrofon dimatikan pada pukul 20.53.
Wanita berusia 50 tahun itu kemudian dilarikan ke rumah sakit.
Kasus Pembunuhan Sadis
Pike yang berusia 18 tahun dan kekasihnya saat itu, Tadaryl Shipp (17 tahun), memukuli dan menyiksa teman sekelas mereka, Colleen Slemmer (19 tahun) hingga tewas pada 1995.
Kasus ini menarik perhatian luas pada saat pembunuhan terjadi, sebagian karena adanya simbol pentagram yang diukir di tubuh Slemmer serta elemen kejahatan lainnya yang memicu ketakutan akan pemujaan setan di tengah fenomena "kepanikan satanik" (satanic panic) pada tahun 1980-an dan 1990-an.
Setelah pembunuhan tersebut, Pike didiagnosis menderita gangguan bipolar dan gangguan stres pascatrauma (PTSD).
Saat itu, Pike mengaku hanya ingin berkelahi dengan Slemmer, namun akhirnya membunuhnya dalam serangan yang tak terkendali karena dia tidak bisa "mengerem" tindakannya.
Pike saat itu meyakini bahwa Slemmer berusaha merebut kekasihnya, Shipp—yang memiliki ketertarikan serupa terhadap citra-citra satanik—darinya, meskipun teman-teman korban membantah hal tersebut.
Jaksa menyatakan bahwa Slemmer ditendang, dipukuli, dan disayat selama setengah jam, dan bahwa Pike mengukir pentagram di dada korban saat korban masih hidup, sebelum akhirnya tewas akibat hantaman bongkahan aspal di kepalanya.
Shipp dalam persidangan mengakui bahwa dirinyalah yang mengukir pentagram itu.
Jenazah Slemmer yang dalam kondisi setengah telanjang ditemukan keesokan paginya, dengan pakaiannya yang berlumuran darah tergantung di dahan pohon di atasnya.
Semua remaja yang terlibat ditangkap dalam waktu 36 jam; penyelidik menemukan sebuah "Alkitab setan" dan altar di kamar Pike, serta serpihan tengkorak Slemmer.