
UPdates—Nilai tukar rupiah anjlok dan tembus level Rp17.500 per dolar Amerika Serikat (AS) di perdagangan intraday hari ini, Selasa, 12 Mei 2026.
You may also like :
Mayoritas Mata Uang di Kawasan Asia Lesu di Senin Pagi, Rupiah Berada di Level Rp17.404
Itu adalah level pelemahan rupiah terhadap dolar AS terburuk dalam beberapa periode krisis.
You might be interested :
Rupiah Diprediksi dalam Tekanan Akibat Demo Rusuh
Pada 1998, saat krisis moneter menerpa Asia, nilai tukar rupiah sekitar Rp16.800 per dolar AS.
Kemudian, pada Maret 2020, saat pandemi COVID-19 sekitar Rp16.575 per dolar AS. Lalu, pada April 2024, sempat tembus Rp16.400 per dolar AS.
Melansir Bloomberg, Selasa, 12 Mei 2026, rupiah dibuka di level Rp17.479 per dolar AS atau melemah 0,37% dibanding penutupan hari sebelumnya yang berada di Rp17.414 per dolar AS.
Selanjutnya, rupiah bergerak melemah. Terpantau pada pukul 09.45 WIB, rupiah sudah di level Rp17.506 atau melemah 0,53%.
Pada pukul 09.50 WIB, rupiah terus melemah dan berada di posisi Rp17.508 per dolar AS, yang merupakan level terlemah rupiah.
Pakar Ekonomi, Ferry Latuhihin mengatakan, kenaikan harga minyak dunia menjadi salah satu sentimen utama yang membebani rupiah.
Ferry Latuhihin menjelaskan, lonjakan harga energi memperlebar tekanan terhadap kondisi fiskal dan eksternal Indonesia.
“(Sentimen utamanya) Harga minyak dan fiscal crack kita,” ujar Ferry sebagaimana dilansir Keidenesia.tv dari Kontan, Selasa, 12 Mei 2026.
Ia menilai, tekanan terhadap rupiah masih berpotensi berlanjut apabila kondisi global tidak membaik dan ketahanan eksternal domestik terus melemah.
Bahkan, Ferry memperkirakan nilai tukar rupiah berisiko menyentuh level Rp25.000 per dolar AS pada semester II-2026.