
UPdates - Enam minggu setelah dimulainya perang dengan Iran, Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump memberikan tugas tersulit ke Angkatan Laut AS dalam konflik ini yakni memblokade pelabuhan-pelabuhan Iran dan membersihkan Selat Hormuz dari ranjau Iran.
You may also like :
Trump Mungkin Rebut Greenland dari Denmark dengan Kekuatan Militer
Berdasarkan informasi resmi dari Komando Pusat AS atau Central Command (Centcom) yang disadur Keidenesia.TV dari CNN, Selasa, 14 April 2026, perintah blokade tersebut mulai berlaku untuk semua pelabuhan Iran, baik di dalam maupun di luar selat mulai pukul 10 pagi waktu setempat (ET) hari Senin, 13 April 2026 waktu setempat.
You might be interested :
Sniper Israel Tembak Mati Anak Gaza, Trump tak Yakin Gencatan Senjata Tuntas
Sebelumnya Iran telah menguasai selat tersebut yang merupakan jalur penting untuk perdagangan energi global sejak perang pecah akhir Februari lalu.
Trump mengindikasikan bahwa misi tersebut akan memiliki cakupan yang lebih luas lagi, mungkin jauh di luar Teluk Persia.
“Saya juga telah menginstruksikan Angkatan Laut kita untuk mencari dan mencegat setiap kapal di Perairan Internasional yang telah membayar bea kepada Iran. Tidak seorang pun yang membayar bea ilegal akan mendapatkan jalur aman di laut lepas,” katanya pada hari Minggu, merujuk pada langkah Teheran untuk memungut biaya dari kapal untuk jalur aman.
Tujuan misi ini adalah untuk memaksimalkan tekanan pada Iran dengan mencekik aliran dana dari perdagangan energi.
Namun, menyelesaikan krisis energi global yang timbul dari perang ini membutuhkan tugas berat lainnya: membersihkan ranjau laut yang telah ditanam Iran.
Pada hari Sabtu lalu, Trump mengatakan Angkatan Laut telah memulai operasi penyapuan ranjau di selat tersebut.
CENTCOM membenarkan hal itu, dengan mengatakan dua kapal perusak rudal berpemandu AS telah memasuki selat untuk mulai "menciptakan kondisi untuk membersihkan ranjau."
Misi-misi tersebut menandai pergeseran dalam konflik ini, dari udara ke laut. Pesawat angkatan laut yang lepas landas dari kapal induk juga terlibat.
Sementara itu, juru bicara Kementerian Pertahanan Iran, Brigadir Jenderal Reza Talaei-Nik memperingatkan bahwa keterlibatan militer asing di selat tersebut hanya akan memperburuk krisis.
Teheran bahkan mengancam akan membalas dengan menyerang pelabuhan-pelabuhan negara tetangganya di kawasan Teluk.
Blokade ini juga memicu kekhawatiran global terhadap stabilitas pasokan energi. Harga minyak dunia dilaporkan kembali melonjak di tengah ketidakpastian pembukaan kembali Selat Hormuz.