
UPdates—Ratusan diplomat dipaksa keluar dari pekerjaan mereka oleh pemerintahan Trump meskipun krisis sedang berlangsung di seluruh dunia, menurut sebuah laporan baru.
You may also like :
Intelijen AS Bantah Alasan Pembenaran Perang Trump, Rick Wilson: Tidak Ada yang akan Menyelamatkan Anda, Donald
Menurut CNN, Departemen Luar Negeri menyelesaikan pemecatan hampir 250 petugas layanan luar negeri melalui email pada hari Jumat.
You might be interested :
Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei: Jika AS Memulai Perang, Itu akan Meluas ke Seluruh Wilayah
"Pengurangan jumlah personel Anda akan berlaku hari ini. Terima kasih sekali lagi atas pengabdian Anda kepada Departemen," demikian bunyi email tersebut sebagaimana dilansir Keidenesia.tv dari Raw Story, Minggu, 17 Mei 2026.
Mantan pejabat kepada CNN mengatakan, pengurangan jumlah personel juga berdampak pada staf yang seharusnya dapat memberikan panduan tentang perang di Iran.
Selain itu, jumlah orang yang memilih untuk meninggalkan layanan luar negeri AS belum pernah terjadi sebelumnya, kata David Kostelancik, seorang diplomat yang sudah pensiun, kepada CNN.
"Sekitar 2.000 petugas layanan luar negeri meninggalkan Departemen Luar Negeri tahun lalu," lapor CNN berdasarkan angka dari Asosiasi Layanan Luar Negeri Amerika.
CNN menambahkan bahwa 100 pos diplomatik lainnya di seluruh dunia di wilayah-wilayah yang tegang seperti Timur Tengah, Ukraina, dan Rusia masih belum memiliki duta besar yang telah disetujui Senat.
"Negosiasi diplomatik yang paling sensitif, mengenai topik-topik yang pelik seperti mengakhiri perang di Iran dan mengamankan penyelesaian konflik Ukraina, dipimpin oleh rekan bisnis dan anggota keluarga Presiden Donald Trump," lapor CNN.
"Seringkali tanpa tim diplomat berpengalaman dengan keahlian regional," lanjut laporan itu.