
UPdates - Uni Emirat Arab (UEA) secara resmi akan keluar dari keanggotaan Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) pada tanggal 1 Mei 2026.
You may also like :
Trump Sebut Arab Saudi Bisa dengan Mudah Akhiri Perang Rusia-Ukraina
Dalam laporannya, Kantor Berita Negara UEA, WAM mengungkapkan bahwa keputusan UEA keluar dari OPEC tersebut sejalan dengan strategi jangka panjang sektor energi Abu Dhabi.
You might be interested :
Indonesia Jumpa Arab Saudi dan Irak Lagi di Putaran 4 Kualifikasi Piala Dunia 2026
"Keputusan ini selaras dengan visi strategis dan ekonomi jangka panjang Uni Emirat Arab serta pengembangan sektor energinya, termasuk percepatan investasi dalam produksi energi domestik," bunyi pemberitaan WAM, yang dilansir Keidenesia.TV dari CNNIndonesia, Rabu, 29 April 2026.
OPEC merupakan kelompok negara penghasil minyak utama yang mengoordinasikan kebijakan produksi, serta mampu memengaruhi pasokan serta harga minyak global.
Keluarnya UEA dari OPEC dinilai menjadi pukulan besar bagi organisasi minyak tersebut, termasuk bagi anggota utamanya, yaitu Arab Saudi.
Secara kolektif, OPEC menyumbang 36 persen dari produksi minyak dunia, juga secara bersama-sama menguasai hampir 80 persen dari total cadangan dunia.
UEA sebelumnya telah lama mendorong kenaikan kuota produksi di dalam OPEC. Langkah itu mencerminkan ambisi Abu Dhabi untuk memperluas kapasitas produksi, jauh di atas batas yang ditetapkan organisasi.
OPEC sendiri didirikan pada 1960 oleh Arab Saudi, Iran, Irak, Venezuela, dan Kuwait. Uni Emirat Arab bergabung tujuh tahun kemudian.