Presiden Donald Trump (Foto:AP/Evan Vucci)

Warga AS Menangis, Menyesal Seumur Hidup Pilih Trump di Pilpres Setelah Saudaranya Meninggal dalam Tahanan ICE

5 September 2026
Font +
Font -

UPdates—Seorang mantan pendukung Presiden Donald Trump mengatakan ia akan selamanya menyesali pilihannya setelah saudaranya meninggal dunia saat berada dalam tahanan ICE.

You may also like : savevid.net 670306311 18096522578133286 3010747816157503034 nViral, Penemuan 600 Kg Narkoba yang Disembunyikan dalam Ekskavator

Naseer Paktyawal mengunggah sebuah video yang memperlihatkan dirinya menangis—video yang awalnya dibagikan oleh ABC News—untuk menceritakan kehilangan saudaranya, Mohammad Nazeer Paktyawal, serta rasa bersalah yang ia tanggung karena pernah memilih Trump.

You might be interested : china bendera anadoluChina Ingatkan AS jangan Coba-Coba Ganggu Kerja Sama Iran-Tiongkok

Keduanya sangat akrab dan tak terpisahkan, ujar Paktyawal yang datang ke AS dari Afghanistan saat menggambarkan ikatan di antara mereka.

"Kami tidak pernah saling memanggil 'saudara'. Kami menyebut satu sama lain sebagai sahabat karib," kata Paktyawal di The Mirror sebagaimana dilansir Keidenesia.tv dari Ray Story, Sabtu, 5 September 2026.

Menurut laporan The Mirror, para tokoh komunitas Afghanistan dan sebuah kelompok pengungsi menyebut saudara Paktyawal pernah bertugas di Pasukan Khusus AS pada tahun 2005, namun Departemen Keamanan Dalam Negeri (DHS), lembaga induk ICE, menyatakan tidak memiliki catatan mengenai masa tugasnya.

Paktyawal menceritakan kembali peristiwa penangkapan di luar sebuah apartemen di Dallas yang berujung pada kematian saudaranya.

“Dua mobil tanpa tanda dinas. Tujuh atau delapan orang melompat keluar dari mobil-mobil itu," ujarnya.

Para agen mencengkeram saudaranya dan memborgolnya di hadapan keluarganya, kata Paktyawal.

Kemudian, Paktyawal menerima telepon dari fasilitas ICE. Ia diberi tahu bahwa saudaranya telah meninggal dunia dan jenazahnya ditinggalkan di tempat parkir rumah sakit.

"Itulah hal yang tidak akan pernah saya lupakan seumur hidup saya," ujarnya.

Menurut The Mirror, saudara laki-laki Paktyawal telah mengajukan permohonan suaka sejak tahun 2021 dan merupakan orang ke-12 yang meninggal dalam tahanan ICE pada tahun 2026.

The Mirror menyebut Paktyawal memberikan suara untuk Trump setelah tiba di AS pada tahun 2014, dan ia menganggap pilihan tersebut sebagai penyebab kematian saudaranya.

"Suara pertama saya adalah untuk presiden ini, dan saya menyesalinya; saya akan terus menyesalinya seumur hidup saya," ujar Paktyawal.

"Karena saya—karena pilihan suara saya—dia ditangkap dan kehilangan nyawanya. Saya tidak akan pernah bisa memaafkan diri sendiri atas hal itu," lanjutnya.

Paktyawal menyatakan bahwa ia tidak lagi memercayai pemerintahan Trump. "Saya tidak percaya pada pemerintahan ini," tegasnya.

Font +
Font -

Related UPdates

Icon IDfinance
Memuat data finansial...
Icon IDweather
Memuat data cuaca...

New Videos

Quote of the Day

images (9)

Christopher Paolini

"Tanpa rasa takut, tidak akan ada keberanian."
Load More >