
UPdates—Kementerian Luar Negeri Israel mengatakan bahwa perjalanan armada internasional terbaru yang menuju Gaza untuk mengirimkan bantuan telah berakhir.
You may also like :
Trump Dicap Presiden yang Paling Mudah Ditipu Netanyahu dan Lemah
Mereka mengatakan bahwa 430 aktivis yang ada di atas kapal-kapal tersebut sedang dipindahkan ke Israel.
You might be interested :
Habiba Bangunlah, Perang Sudah Berakhir
“Semua 430 aktivis telah dipindahkan ke kapal-kapal Israel dan sedang menuju Israel, di mana mereka akan dapat bertemu dengan perwakilan konsuler mereka," kata Kementerian tersebut di X sebagaimana dilansir Keidenesia.tv dari MEMO, Rabu, 20 Mei 2026.
Kementerian itu menyebut aksi para aktivis hanya merupakan kampanye publisitas. "Armada ini sekali lagi terbukti tidak lebih dari aksi PR untuk kepentingan Hamas," tegasnya.
Kementerian tersebut mengatakan Israel akan terus bertindak sepenuhnya sesuai dengan hukum internasional dan tidak akan mengizinkan pelanggaran apa pun terhadap blokade laut yang sah di Gaza.
Dalam sebuah unggahan di X, penyelenggara Armada Global Sumud menyebut Israel menculik para aktivis di perairan internasional.
“Pendudukan Israel sekali lagi secara ilegal dan dengan kekerasan mencegat armada kapal kemanusiaan internasional kami dan menculik para sukarelawan kami saat mereka menjalankan misi yang sah untuk memecah pengepungan ilegal di Gaza dan membuka koridor kemanusiaan,” kata penyelenggara.
Sementara itu, Presiden Korea Selatan, Lee Jae Myung mengecam keras penyitaan kapal bantuan tujuan Gaza yang membawa aktivis Korea Selatan oleh militer Israel.
Berbicara dalam rapat Kabinet, Lee menurut The Chosun Daily mempertanyakan dasar hukum untuk mencegat Armada Global Sumud, menanyakan apakah kapal tersebut telah memasuki perairan teritorial Israel atau melanggar batas yang diakui.
Lee mengatakan bahwa Seoul harus mempertimbangkan surat perintah penangkapan Pengadilan Kriminal Internasional untuk Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu.
“Hampir semua negara Eropa telah mengeluarkan surat perintah penangkapan untuk Netanyahu dan mengumumkan rencana untuk menangkapnya jika ia memasuki wilayah mereka. Kita juga harus mempertimbangkan hal ini,” katanya sebagaimana dilansir Keidenesia.tv dari Anadolu.
Ia menegaskan, Israel tidak boleh terus menerus dibiarkan berbuat seenaknya. “Ada norma internasional minimum, dan Israel melanggar semuanya. Mereka harus mematuhi prinsip-prinsip; kita telah mentolerir ini terlalu lama,” lanjutnya.
“Apa dasar hukum bagi Israel untuk menyita atau menenggelamkan kapal, termasuk kapal yang membawa warga negara kita, yang menjadi sukarelawan untuk Gaza? Bukankah invasi dan pendudukan Gaza oleh Israel ilegal menurut hukum internasional?” kata Lee.
Sebagai tanggapan, Penasihat Keamanan Nasional Wi Sung-lac mengatakan: “Ini membutuhkan pengawasan... Konflik dimulai dengan Hamas menyerang Israel dan membunuh hampir 2.000 orang, yang menyebabkan Israel memberlakukan kontrol militer atas wilayah tersebut.”
Presiden kemudian bertanya apakah Gaza adalah wilayah Israel. Wi menjawab: “Itu bukan wilayah Israel.”
“Bukankah seharusnya kita protes? Bahkan selama pertempuran, bisakah kapal negara ketiga disita? Ini adalah masalah akal sehat dasar, bukan hanya hukum, bukan?” tegas Lee.
Kapal-kapal yang diserang dan disita oleh angkatan laut Israel juga membawa dua warga negara Korea Selatan.
Armada yang terdiri dari lebih dari 50 perahu itu berlayar pada hari Kamis dari distrik Marmaris di Mediterania Turki dalam upaya baru untuk menembus blokade Israel yang diberlakukan di Gaza sejak 2007.
Penyelenggara mengatakan dalam misi tersebut, ada 96 aktivis Turki dan peserta dari 39 negara lain termasuk Jerman, AS, Argentina, Australia, Bahrain, Brasil, Aljazair, Indonesia, Maroko, Prancis, Afrika Selatan, Inggris, Irlandia, Spanyol, Italia, Kanada, Mesir, Pakistan, Tunisia, Oman, dan Selandia Baru.
Ini bukan pertama kalinya Israel menyerang dan menangkap aktivis yang ikut dalam armada bantuan Gaza.
Sebelumnya, pasukan Israel juga menyerang armada bantuan Global Sumud di lepas pantai pulau Kreta, Yunani, pada malam hari antara tanggal 29 dan 30 April.