
UPdates—Seorang operator kapal di kepulauan Svalbard, Norwegia, yang terletak di wilayah Arktik, dijatuhi denda sebesar $5.255 atau sekitar Rp93,8 juta karena menggunakan klakson kabut untuk membangunkan beruang kutub yang sedang tidur.
You may also like :
Hasil Kualifikasi dan 32 Negara yang Lolos Piala Dunia 2026
Insiden tersebut terjadi awal bulan ini ketika sebuah kapal sedang berlayar di sebuah fjord di timur laut Svalbard, sekitar 620 mil dari Kutub Utara.
You might be interested :
Sejarah Hari Ini, 27 Februari: Hari Beruang Kutub Internasional
"Para penumpang kapal tersebut dilaporkan melihat seekor beruang kutub sedang tidur di daratan," kata gubernur wilayah tersebut dalam sebuah pernyataan pada Kamis waktu setempat sebagaimana dilansir Keidenesia.tv dari CBS News, Jumat, 14 Agustus 2026.
"Seseorang di atas kapal kemudian membunyikan klakson kabut kapal, yang membangunkan hewan tersebut dan membuatnya berpindah ke lokasi lain," tambahnya.
Kantor gubernur memerintahkan individu tersebut untuk membayar denda yang cukup besar, dan orang tersebut menyetujuinya. Identitas maupun kewarganegaraan orang tersebut tidak diungkapkan.
Berdasarkan peraturan setempat, dilarang untuk mengganggu, memancing, atau mengejar beruang kutub tanpa alasan yang mendesak, mengingat hewan ini telah ditetapkan sebagai spesies yang dilindungi di Svalbard sejak tahun 1972.
Sekitar 260 ekor beruang kutub tercatat berada di kepulauan tersebut dalam estimasi ilmiah terakhir yang dilakukan pada tahun 2015.
Perubahan iklim dan mencairnya es telah mengancam habitat beruang kutub dalam beberapa tahun terakhir, namun para ilmuwan melaporkan pada bulan Januari bahwa populasi beruang di Svalbard justru berkembang pesat, bahkan mengalami peningkatan berat badan.
Jon Aars, seorang ilmuwan senior di Institut Kutub Norwegia (Norwegian Polar Institute), memimpin tim peneliti yang memantau secara cermat berat dan ukuran hampir 800 ekor beruang di Svalbard antara tahun 1992 dan 2019.
Mereka mendapati bahwa hewan raksasa kutub tersebut berada dalam kondisi baik, mampu bertahan hidup, dan terus membesarkan anak-anak beruang yang baru lahir.
"Saya cukup terkejut karena kita telah kehilangan begitu banyak es laut sejak saya memulai penelitian ini," ujar Aars kepada CBS News.
Selama bertahun-tahun, para ilmuwan telah memperingatkan bahwa menyusutnya cakupan es laut dapat membahayakan beruang kutub, mengingat mereka memanfaatkan es tersebut sebagai pijakan untuk berburu anjing laut.
"Sebagian dari kami memperkirakan bahwa mereka seharusnya sudah mengalami kesulitan," kata Aars.
Namun, temuan timnya mengindikasikan bahwa beruang-beruang tersebut beradaptasi dengan hamparan es yang lebih kecil; hal ini bahkan mungkin membantu mereka berburu secara lebih efisien karena mangsa mereka terkonsentrasi di area yang lebih sempit.