Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar MPR RI Tahun 2026 di Kalimantan Barat (Foto: Tangkapan Layar/Instagram)

Heboh Cerdas Cermat 4 Pilar MPR RI di Kalbar, Jawaban Sama tapi Juri tak Dengar dan Ngotot Salahkan Siswa yang Protes

11 May 2026
Font +
Font -
Poin Penting Artikel
  • Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar MPR RI Tahun 2026 di Kalimantan Barat berakhir dengan kontroversi karena jawaban yang sama dari dua sekolah diberi nilai berbeda.
  • Siswa dari SMAN 1 Kota Pontianak yang menjawab dengan benar tentang proses pemilihan anggota Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) malah mendapat pengurangan nilai karena dianggap tidak menyebutkan Dewan Perwakilan Daerah (DPD).
  • Sementara itu, regu B yang menjawab dengan substansi serupa mendapat nilai 10, menyebabkan protes dari regu C yang merasa tidak adil.
  • Dewan juri menolak untuk mempertimbangkan ulang keputusan mereka, dengan alasan bahwa hanya juri yang berhak menentukan jawaban benar atau salah.
  • Kontroversi ini menuai kritik di media sosial terkait profesionalitas penilaian dalam kompetisi, dengan banyak kecaman yang diarahkan pada juri dan pembawa acara.
  • SMAN 1 Sambas keluar sebagai Juara I Final LCC Empat Pilar Tahun 2026 tingkat provinsi dan akan mewakili Kalimantan Barat pada ajang Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar MPR RI Tahun 2026 tingkat nasional di Jakarta.
  • Lomba ini diikuti oleh sembilan sekolah dari 137 sekolah yang mengikuti seleksi tingkat kabupaten/kota di Kalimantan Barat.
atau

UPdates—Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar MPR RI Tahun 2026 di Kalimantan Barat pada akhir pekan berakhir dengan kontroversi dan heboh di media sosial. Penyebabnya, jawaban yang sama dari dua sekolah diberi nilai berbeda.

Satu sekolah mendapat pengurangan nilai. Sementara sekolah lainnya mendapat tambahan angka. Yang bikin heboh dan akhirnya viral sebab siswa yang protes malah disalahkan.

Kontroversi LCC 4 Pilar Kalbar yang berlangsung di Pontianak, Sabtu, 9 Mei 2026 lalu bermula dari pertanyaan mengenai proses pemilihan anggota Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).

Dalam soal tersebut, peserta diminta menyebutkan lembaga yang pertimbangannya wajib diperhatikan oleh DPR dalam memilih anggota BPK.

“Anggota-anggota Badan Pemeriksa Keuangan dipilih oleh Dewan Perwakilan Rakyat dengan memperhatikan pertimbangan Dewan Perwakilan Daerah dan diresmikan presiden,” jawab regu C dari SMAN 1 Kota Pontianak.

Meskipun jawaban tersebut sudah benar, dewan juri malah memberikan pengurangan poin karena menganggap siswa SMAN 1 Kota Pontianak tidak menyebut Dewan Perwakilan Daerah (DPD).

"Nilai -5," kata Dyastasita WB.

"Eh regu C ya, itu pertimbangan dari DPD-nya tidak ada. Jadi dewan juri tadi berpendapat enggak ada DPD," ujar Dyastasita yang menjabat sebagai Kepala Biro Pengkajian Setjen MPR RI.

Pertanyaan yang sama diberikan kepada regu B. Tim tersebut juga menyampaikan jawaban dengan substansi serupa.

“Anggota Badan Pemeriksa Keuangan dipilih oleh Dewan Perwakilan Rakyat dengan memperhatikan pertimbangan Dewan Perwakilan Daerah dan diresmikan presiden,” jawab regu B.

Jawaban itu dianggap benar dan mendapat nilai 10.

Sontak saja keputusan itu diprotes oleh regu C yang merasa telah menyebutkan unsur DPD dalam jawabannya.

Mereka meminta secara sopan agar dewan juri mempertimbangkan ulang keputusan yang telah diberikan dengan melihat pendapat dari penonton.

Dyastasita menolak saran itu dan menegaskan bahwa hanya juri yang berhak menentukan jawaban benar atau salah.

Dewan juri lainnya, Indri Wahyuni kemudian menjelaskan bahwa di sinilah pentingnya artikulasi saat peserta menyampaikan jawaban.

“Artikulasi itu penting. Dewan juri menilai berdasarkan apa yang terdengar jelas. Kalau tidak terdengar, maka juri berhak memberikan pengurangan nilai,” jelas Indri Wahyuni  yang saat ini menjabat sebagai kepala Bagian Sekretariat Badan Sosialisasi.

Namun, faktanya, artikulasi siswa SMAN 1 Kota Pontianak juga sangat jelas.

Selain juri, host acara itu ikut menjadi sorotan usai membela keputusan juri. Ia menyebut juri punya kualitas dan menyebut bahwa penilaian telah dilakukan secara teliti. “Mungkin itu perasaan adik saja,” kata pembawa acara lomba itu.

Cuplikan momen tersebut kini ramai diperbincangkan di media sosial dan menuai kritik terkait profesionalitas penilaian dalam kompetisi.

Karena ramainya pembahasan soal kontroversi acara ini, peristiwa itu pun viral di media sosial. Kecaman bermunculan yang diarahkan pada juri dan pembawa acara.

Sebagai informasi, Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar MPR RI Tahun 2026 tingkat Provinsi Kalimantan Barat diikuti sembilan peserta, dari 137 sekolah yang mengikuti seleksi tingkat kabupaten/kota.

Kesembilan sekolah tersebut adalah SMAN 1 Pontianak, SMAN 3 Singkawang, SMAN 1 Seponti, SMA Santo Paulus Pontianak, SMA Katolik Santo Paulus Pontianak, SMA Katolik Santo Petrus Pontianak, SMAN 1 Sambas, SMAN 1 Sanggau, MAS Darussalam Sengkubang dan MAN 1 Sintang.

SMAN 1 Sambas keluar sebagai Juara I Final LCC Empat Pilar Tahun 2026 tingkat provinsi yang berlangsung di Kota Pontianak ini.

Pada babak final, SMAN 1 Sambas mengalahkan SMAN 1 Pontianak yang menjadi juara ke-2 dan SMAN 1 Sanggau sebagai juara ke-3.

Selanjutnya, SMAN 1 Sambas akan mewakili Kalimantan Barat pada ajang Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar MPR RI Tahun 2026 tingkat nasional. Adapun ajang ini akan berlangsung di Jakarta pada Agustus mendatang.

Font +
Font -