
UPdates—India dan Indonesia memperluas kerja sama pertahanan, maritim, dan ekonomi setelah pembicaraan kedua pemimpin di Jakarta. Hasilnya, termasuk kesepakatan pasokan rudal BrahMos dan investasi mineral.
You may also like :
Dituduh Penyihir, Ibu dan Bayinya Dibakar Hidup-Hidup karena Tetangga Sakit
Kesepakatan ini diumumkan setelah pembicaraan antara Perdana Menteri India, Narendra Modi dan Presiden RI, Prabowo Subianto, dengan kerja sama pertahanan, keamanan maritim, dan rantai pasokan mineral kritis sebagai hasil utama.
You might be interested :
Kebakaran Besar Tewaskan 17 Orang di India
Pasokan rudal BrahMos ke militer Indonesia juga muncul sebagai hasil utama dari diskusi tersebut.
Kedua pihak menandatangani hampir selusin perjanjian untuk memperkuat kerja sama di berbagai bidang termasuk mineral kritis, teknologi, ketahanan pangan, obat-obatan, dan keamanan maritim.
Modi, yang tiba di Jakarta pada hari Senin dalam kunjungan pertamanya ke tiga negara, mengatakan Kemitraan Strategis Komprehensif India-Indonesia tahun 2018 memasuki fase baru.
“Kemitraan Strategis Komprehensif yang kita jalin pada tahun 2018 kini memasuki babak baru. Kita mengambil langkah-langkah penting ke depan di setiap sektor – pembangunan, keamanan, teknologi, budaya, dan pendidikan,” kata Modi dalam pernyataan medianya setelah pembicaraan tersebut sebagaimana dilansir Keidenesia.tv dari India Today, Selasa, 7 Juli 2026.
“Saya yakin bahwa babak emas kemitraan India-Indonesia dimulai hari ini,” lanjutnya.
Modi mengatakan kepercayaan yang tumbuh antara kedua negara memperkuat kerja sama bilateral di bidang pertahanan, keamanan, dan maritim.
Ia mengatakan India dan Indonesia telah mencapai kesepakatan untuk meningkatkan pertukaran pertahanan, manajemen bencana, dan kerja sama industri.
Dengan kedua pihak berupaya memperdalam hubungan pertahanan, india juga telah memutuskan untuk mengimpor rudal udara-ke-udara Astra India menyusul keberhasilan senjata tersebut selama Operasi Sindoor.
Untuk memperkuat rantai pasokan mineral penting, India memutuskan untuk berinvestasi dalam pembuatan baja, nikel, dan magnet permanen tanah jarang di Indonesia.
Kedua negara juga sepakat untuk bersama-sama mengembangkan pelabuhan Sabang yang berlokasi strategis, yang menghadap Selat Malaka dan berjarak 100 mil dari proyek pelabuhan Great Nicobar India.
Modi juga mengumumkan keputusan untuk mendirikan kampus Institut Manajemen India-Bangalore di Indonesia.
"Kami senang bahwa UPI India akan terintegrasi dengan sistem pembayaran Indonesia. Ini akan meningkatkan kemudahan berbisnis dan kemudahan perjalanan," katanya.
Kedua pihak juga memutuskan untuk meningkatkan kerja sama di bidang ekonomi biru, perdagangan maritim, dan pengembangan pelabuhan.
Perdana menteri dan presiden Indonesia juga membahas tantangan global, termasuk situasi di Asia Barat.
"Di era gejolak global ini, India percaya bahwa peran dialog dan diplomasi menjadi lebih penting dari sebelumnya," kata Modi.
"Mengenai isu Palestina, kami mendukung Solusi Dua Negara dan perdamaian jangka panjang," ujarnya.
Sebelumnya, rencana pemerintah mengadakan sistem rudal supersonik BrahMos mendapat sorotan dari DPR RI.
Selain mempertanyakan urgensi pembelian di tengah tekanan fiskal, DPR juga meminta pemerintah menjelaskan secara terbuka nilai kontrak, mekanisme pembayaran, dan dasar strategis pengadaan alutsista tersebut.
Anggota Komisi I DPR RI, Tubagus Hasanuddin, mengatakan hingga akhir Juni, DPR belum menerima penjelasan resmi mengenai rencana pengadaan rudal BrahMos.
Menurut dia, setiap pengadaan alat utama sistem senjata (alutsista) bernilai besar harus memenuhi prinsip transparansi dan akuntabilitas.