
UPdates—Divisi angkatan laut Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) memperingatkan kapal-kapal agar tidak mendekati Selat Hormuz setelah Iran menyatakan jalur air tersebut ditutup pada hari Sabtu waktu setempat.
You may also like :
Javier Bardem Protes Perang Iran di Acara Oscar 2026, Artis Hollywood Bersorak
Seorang reporter dari stasiun penyiaran milik negara Republik Islam Iran (IRIB) mengatakan bahwa angkatan laut IRGC menyiarkan pesan peringatan dan langsung menghubungi kapal-kapal di daerah tersebut.
You might be interested :
AS-Iran Berdamai, Netanyahu Dikecam di Israel dan Dicap Gagal dalam Perang
Mereka memperingatkan bahwa kapal-kapal yang mencoba menyeberangi selat tersebut dapat menemui ranjau atau menjadi sasaran pasukan angkatan laut.
Reporter IRIB tersebut menyoroti bahwa lalu lintas di Teluk Persia "bahkan lebih sepi" daripada beberapa jam sebelumnya.
Penutupan kembali Selat Hormuz dilakukan Iran setelah Israel terus menyerang Lebanon yang menjadi bagian dari kesepakan damai dengan Amerika Serikat.
Seorang pejabat Iran kepada CNN pada hari Sabtu menegaskan, mengakhiri konflik di Lebanon adalah poin terpenting dalam agenda delegasi Iran yang berada di Swiss untuk bernegosiasi dengan AS.
Pejabat tersebut mengatakan bahwa pembicaraan tersebut tidak dianggap sebagai bagian dari negosiasi resmi yang diuraikan dalam nota kesepahaman antara AS dan Iran karena ketentuan lain belum dipenuhi, terutama Klausul 1 dari perjanjian tersebut, yang mencakup pengakhiran perang di Lebanon.
Sebelumnya, Militer Iran sudah mengumumkan akan menutup Selat Hormuz sebagai tanggapan atas pelanggaran gencatan senjata Israel yang berkelanjutan di Lebanon, serta kegagalan Amerika Serikat untuk mengimplementasikan klausul pertama dari perjanjian sementara untuk mengakhiri perang.
Sebagaimana dilansir Keidenesia.tv dari CNN, Minggu, 21 Juni 2026, klausul pertama dari kerangka kerja tersebut menetapkan penghentian segera dan permanen operasi militer di semua front, termasuk di Lebanon.
Akan tetapi, pertempuran terus berlanjut di sana antara Israel dan Hizbullah, kelompok militan yang didukung Iran.
Sementara itu, militer AS membantah klaim Iran atas kendali selat tersebut dan mengatakan akan memastikan lalu lintas tetap lancar.
Semua ini terjadi selama periode 60 hari untuk mencapai kesepakatan akhir antara Amerika Serikat dan Iran, dan ketika delegasi dari Washington dan Teheran bertemu di Swiss untuk melakukan pembicaraan.