
UPdates—Menteri-menteri sayap kanan Israel melontarkan komentar mengerikan setelah militer negara itu mengumumkan kematian empat tentara mereka di Lebanon.
You may also like :
Sudah Ditegur Keras, Israel Tetap Bombardir Lebanon, Trump: Tanpa Saya, tidak Akan Ada Israel
Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben-Gvir, mengatakan pada hari Jumat bahwa seluruh Lebanon harus terbakar.
You might be interested :
THE K-FACTS EPS 13: Geger Perang Dagang Ala Trump!
"Dengan segala hormat kepada Amerika, Israel harus memperjelas kepada seluruh dunia bahwa darah putra-putra kami dan keamanan warga negara kami tidak dapat ditawar. Seluruh Lebanon harus terbakar," kata Ben-Gvir dalam sebuah pernyataan sebagaimana dilansir Keidenesia.tv dari TRT World, Jumat, 19 Juni 2026.
Menteri ekstremis itu menegaskan, para ibu di Lebanon harus dibuat menangis. "Untuk setiap air mata yang ditumpahkan oleh seorang ibu Israel, seribu ibu Lebanon harus menangis," tegasnya.
Sosok yang secara luas dikategorikan sebagai politikus anti-Arab itu melanjutkan, "Di Timur Dekat, Anda tidak akan menang dengan respons yang terukur dan pengekangan."
Menteri Keuangan sayap kanan Israel, Bezalel Smotrich berkomentar tak kalah provokatif. Ia mengatakan Israel harus beraksi liar. “Memberantas. Mengalahkan terorisme," katanya.
"Kita harus membiarkan api berbicara... dan membuka gerbang neraka," tambahnya, tanpa secara eksplisit menyebut Lebanon.
Kerugian Israel dengan kematian empat tentaranya ini adalah yang pertama diumumkan sejak kesepakatan AS-Iran ditandatangani untuk mengakhiri perang Timur Tengah.
Perjanjian itu juga seharusnya menghentikan pertempuran antara Israel dan Hizbullah yang didukung Iran di Lebanon, dan Washington telah menyatakan kekecewaannya atas serangan militer Israel yang terus berlanjut di sana.
Perjanjian AS-Iran secara luas dianggap di Israel merugikan kepentingannya, menandakan kegagalan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu untuk memaksa Presiden AS Donald Trump untuk mempertimbangkan tuntutan keamanan Israel.
Netanyahu berada di bawah tekanan menjelang pemilihan yang akan diadakan pada akhir Oktober.
Menurut jajak pendapat yang diterbitkan pada hari Jumat oleh surat kabar Maariv, 63 persen warga Israel "khawatir" tentang masa depan Israel setelah kesepakatan tersebut.
Avigdor Lieberman, kepala partai oposisi nasionalis Yisrael Beiteinu, pada hari Jumat mengatakan bahwa harga mahal harus dibayar di Lebanon. "Yang tidak akan pernah bisa dipulihkan oleh pihak lain," ujarnya di X.
Jika pinggiran selatan Beirut, benteng Hizbullah, kata dia masih berdiri, ini adalah kegagalan langsung perdana menteri dan menteri pertahanan.
Sebelumnya pada hari Jumat, setidaknya 24 orang tewas dan beberapa lainnya terluka dalam serangkaian serangan Israel di Lebanon selatan, menurut kantor berita resmi Lebanon (NNA).
Kantor berita tersebut mengatakan serangan itu menghantam rumah-rumah penduduk di Al-Sharqiyah, Harouf, dan Kfar Sir di distrik Nabatieh, dan juga menyebabkan beberapa orang hilang.
Menurut angka resmi terbaru, serangan militer Israel di Lebanon, yang dimulai pada 2 Maret, telah menewaskan 3.912 orang, melukai 11.873 lainnya, dan menyebabkan lebih dari satu juta penduduk mengungsi.