
UPdates—Seorang bocah perempuan berusia enam tahun asal Singapura bernama Sarah menulis surat kepada Perdana Menteri Lawrence Wong.
You may also like :
Khutbah Salat Jumat di Singapura Dipersingkat Imbas Asap Karhutla di Indonesia
Alih-alih meminta hadiah, dia hanya memiliki satu permintaan untuk sang perdana menteri, yang ia sebut sebagai "Lorens Wong": tidak ingin punya adik lagi.
Dalam surat tulisan tangan yang diunggah ke media sosial oleh ibunya, Humairah Suhaimi, Sarah memohon kepada PM Wong, mengatakan bahwa dia tidak ingin menjadi kakak perempuan karena khawatir tidak akan diizinkan lagi tidur di samping ibunya.
"Meskipun Anda ingin memberi kami banyak uang, kami tidak butuh uang lagi," tulisnya sebagaimana dilansir Keidenesia.tv dari AsiaOne, Selasa, 1 September 2026.
Sebaliknya, yang dia inginkan adalah menghabiskan waktu bersama orang tuanya, serta kakak laki-lakinya, Adam — yang secara khusus ia sebutkan dalam surat tersebut.
Sembari mendesak perdana menteri untuk tidak memihak kakak laki-lakinya yang berusia sembilan tahun — yang berharap memiliki adik lagi — Sarah menulis: "Juga jangan dengarkan Adam jika dia ingin adik lagi, karena aku tidak mau. Tolong ya, Lorens Wong."
Bocah berusia enam tahun itu kemudian mengakhiri suratnya dengan mengungkapkan rasa cintanya kepada negara.
"Aku cinta Singapura. Salam sayang, Sarah," ujarnya.
Namun, apa sebenarnya yang mendorong gadis kecil itu untuk menulis surat kepada perdana menteri?
Ternyata, semuanya bermula dari lelucon Humairah—yang sempat menggoda anaknya yang berusia enam tahun dengan topik kehamilan pada Rabu lalu (26 Agustus)—sesuatu yang ia tahu biasanya akan membuat anaknya itu kesal.
"Sarah sedang berbaring di atas perut saya dan berkata dia bisa mendengar suara-suara. Saya lalu berkelakar bahwa suara itu berasal dari adik bayi yang sedang saya kandung," ungkap sang ibu kepada AsiaOne pada hari Senin.
Meskipun anaknya sempat mencoba membuktikan bahwa itu hanya bualan, Humairah mengatakan bahwa karena acara National Day Rally (NDR) baru saja berlangsung, ia menggunakan topik tersebut untuk memperkuat leluconnya.
Ia memberi tahu putrinya bahwa PM Wong telah mengimbau warga Singapura untuk memiliki lebih banyak anak saat acara NDR, dan mengklaim bahwa perdana menteri akan memberikan banyak uang kepada keluarga mereka jika mereka melakukannya.
Hal ini membuat Sarah bereaksi dengan menangis dan bertanya: "Apa yang harus aku lakukan?"
Melanjutkan permainan itu, sang Vice President of Operations, Brand and Communication dari SSA Group tersebut kemudian mengatakan kepada putrinya bahwa jika ia benar-benar tidak menginginkan adik, ia harus menulis surat kepada PM Wong untuk meminta izin.
"Dia mengambil kertas foolscap milik kakaknya dan mulai menulis," ujar ibu dua anak itu, seraya menambahkan bahwa putrinya sempat bertanya bagaimana cara mengeja nama perdana menteri.
"Saya bilang saya tidak bisa membantunya karena jika beliau tahu saya membantunya, beliau tidak akan memberikan izin kepada kita. Jadi, dia pun menulisnya sebisanya," selorohnya.
Setelah menulis surat tersebut, anak berusia enam tahun itu kemudian mengobrak-abrik laci dan menemukan amplop untuk memasukkan surat itu.
Humairah akhirnya memberikan alamat Kantor Perdana Menteri (PMO) agar surat itu bisa dikirimkan.
"Saya pikir sebaiknya saya mendukung keinginannya dan benar-benar mengirimkan surat itu," ujarnya.
Surat itu akhirnya dikirimkan keesokan harinya, dan Humairah mengirim surel ke PMO untuk menjelaskan latar belakang di balik surat tersebut.
Tanggapan PM Wong
Yang mengejutkan keluarga, sang perdana menteri memberikan tanggapan. Dalam sebuah surel pada hari Minggu, PM Wong berterima kasih kepada Humairah atas surel tersebut, serta kepada Sarah karena telah meluangkan waktu dan usaha untuk menulis surat kepadanya.
Ia kemudian meyakinkan anak berusia enam tahun itu bahwa ia tidak memerlukan izinnya untuk tetap menjadi anak bungsu di keluarga.
"Kami akan terus berupaya sebaik mungkin untuk menjadikan Singapura tempat yang baik bagi keluarga dalam membesarkan anak-anak mereka — baik mereka memutuskan untuk memiliki dua, tiga, atau lebih anak!" bunyi surel tersebut.
Humairah mengaku terkejut dengan respons PM Wong. "Sejujurnya, saya sama sekali tidak menyangka akan mendapat balasan. Dan fakta bahwa beliau benar-benar membalasnya, bahkan pada Minggu malam — menurut saya itu sangat manis. Itu tanggapan yang hangat dan menenangkan," ujar Humairah.
Humairah menambahkan bahwa ia belum menyampaikan tanggapan tersebut kepada putrinya karena ia baru sempat memeriksa surel setelah anak berusia enam tahun itu berangkat ke tempat penitipan anak.
"Saya akan memanfaatkan [pengalaman] ini untuk lebih menggali pemikirannya mengenai kebijakan-kebijakan lain yang mungkin dirasakannya secara mendalam atau memancing perhatiannya," ujarnya.
Ia menambahkan bahwa ini adalah kali pertama Sarah bisa duduk dan menulis, mengingat biasanya "sangat sulit" untuk membuatnya mau bekerja sama dan mengerjakan latihan saat waktu belajar atau mengulang pelajaran di malam hari.
Sosok bapak bagi Singapura
Ini bukan kali pertama sosok perdana menteri disebut-sebut dalam rumah tangga mereka, ujar Humairah, yang menjuluki PM Wong sebagai "Big Daddy Singapura".
Hal ini dikarenakan anak-anak belum bisa memahami konsep perdana menteri, sehingga orang tua menggunakan istilah tersebut saat menjelaskan kebijakan tertentu kepada mereka.
"Baru-baru ini, beliau mengatakan anak-anak sebaiknya tidak terlalu banyak menghabiskan waktu di depan layar... Hal itu sangat membantu saya dan suami dalam mengatur durasi penggunaan gawai anak-anak, karena kami tinggal bilang, 'Tidak boleh menonton televisi karena 'Big Daddy' bilang tidak boleh’," kata Humairah.
Terlepas dari kekhawatiran Sarah, sang ibu juga mengungkapkan bahwa ia dan suaminya memang hanya ingin memiliki dua anak — bahkan sebelum Sarah memutuskan bahwa ia tidak ingin berbagi orang tuanya dengan adik-adik baru.
"Karier kami saat ini menuntut banyak waktu dan tenaga dari kami berdua. Jadi, memiliki lebih banyak anak rasanya tidak adil bagi anak-anak itu sendiri maupun rekan kerja kami," jelasnya.
Namun, mengapa Sarah begitu menentang kehadiran adik baru?
Menurut Humairah, hal ini karena anak berusia enam tahun tersebut merupakan anak bungsu dari dua bersaudara — sekaligus sepupu termuda di kedua belah pihak keluarga.
"Dia tidak mau melepaskan posisi itu," jelas sang ibu.
Meski demikian, wanita berusia 36 tahun itu menambahkan bahwa jika suatu saat mereka berubah pikiran dan ingin menambah anak, mereka pasti akan mengelola ekspektasi Sarah.
"Menurut saya, bagus juga dia bisa mengungkapkan perasaannya dan mengutarakan pendapatnya," tambah Humairah.
Hal ini mengemuka setelah PM Wong baru saja mengumumkan serangkaian langkah baru untuk mendukung orang tua dan keluarga dalam pidato NDR pada 23 Agustus lalu.
Di antaranya adalah Paket Dukungan Anak SG (SG Child Support Package) yang baru, di mana setiap anak Singapura akan menerima dukungan langsung hingga $62.000 (Rp863 juta), serta tambahan cuti pengasuhan anak bagi orang tua yang bekerja dan biaya yang lebih rendah di prasekolah yang disubsidi pemerintah.