
UPdates - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump resmi meluncurkan operasi militer bernama “Project Freedom”, pada Minggu malam, 3 Mei 2026 waktu setempat.
You may also like :
Terkait Gaza, Amerika akan Periksa Media Sosial Pemohon Visa
Langkah strategis yang menurut Trump bertujuan memandu kapal-kapal dagang negara netral yang terjebak akibat konflik berkepanjangan di kawasan Timur Tengah itu pun kembali menyulut ketegangan di Selat Hormuz.
You might be interested :
Iran Mundur dari Piala Dunia, Menteri Olahraga: Mereka Telah Membunuh Pemimpin Kami
Trump menegaskan bahwa misi utama operasi tersebut adalah bentuk tindakan kemanusiaan demi menjaga stabilitas ekonomi global saat ini. Rencana itu pun disebut melibatkan kapal perusak berpemandu rudal, lebih dari 100 pesawat, serta berbagai platform nirawak multi-domain.
Peringatan keras Pihak Gedung Putih kepada siapapun yang berani menghalangi jalannya proses pengawalan kapal-kapal tersebut, dibalas oleh Iran yang mengancam akan menyerang setiap kekuatan asing yang memasuki wilayah tersebut. Sejumlah eksekutif pelayaran menyatakan keraguan terhadap efektivitas rencana ini.
Sebagian pengamat menilai motif di balik "Project Freedom" ini sebagai kombinasi antara kepentingan keamanan energi global dan juga kepentingan politik domestik.
Trump dinilai ingin menunjukkan kepemimpinan yang kuat kepada publik Amerika Serikat di tengah tekanan besar dari pihak Kongres saat ini.