
UPdates—Presiden AS, Donald Trump mengamuk gara-gara jajak pendapat yang menurutnya dimanipulasi dan laporan bahwa ia diprovokasi untuk berperang dengan Iran oleh Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.
You may also like :
Trump dan Netanyahu Kembali Ingin Relokasi Warga Gaza ke Negara Lain
Dalam sebuah unggahan Truth Social pada Senin pagi waktu AS, Trump membela diri saat ia menyerang secara online sehari setelah Jajak Pendapat NBC News Decision Desk mengungkapkan peringkat persetujuannya telah merosot ke titik terendah di masa jabatan keduanya, yaitu 32%, di tengah kritik seputar konflik di Timur Tengah dan penanganannya terhadap inflasi.
You might be interested :
Trump Dicap Presiden yang Paling Mudah Ditipu Netanyahu dan Lemah
Ia bersumpah bahwa Israel tidak pernah membujuknya untuk berperang dengan Iran dan mengklaim serangan 7 Oktober 2023 yang dilakukan oleh Hamas menambah pendapatnya seumur hidup bahwa IRAN TIDAK AKAN PERNAH MEMILIKI SENJATA NUKLIR.
“Saya menonton dan membaca berita palsu dari para pakar dan jajak pendapat dengan rasa tidak percaya,” tulisnya sambil mengulangi keluhan favoritnya sebagaimana dilansir Keidenesia.tv dari HuffPost, Selasa, 21 April 2026.
“90% dari apa yang mereka katakan adalah kebohongan dan cerita yang dibuat-buat, dan jajak pendapat itu dimanipulasi, seperti halnya Pemilu Presiden 2020 yang dimanipulasi,” lanjutnya.
Trump kemudian dengan penuh semangat membandingkan bentrokan militer negara itu dengan Iran dengan misi untuk menggulingkan Presiden Venezuela Nicolás Maduro pada bulan Januari.
“Sama seperti hasil di Venezuela, yang tidak disukai media untuk dibicarakan, hasil di Iran akan luar biasa,” ujarnya membual.
“Dan jika para pemimpin baru Iran (Perubahan Rezim!) cerdas, Iran dapat memiliki masa depan yang hebat dan makmur!” lanjutnya.
Trump mengambil pendekatan yang jauh lebih mengancam saat berbicara kepada para pemimpin Iran secara daring sehari sebelumnya.
Ia bersumpah untuk menghancurkan setiap pembangkit listrik dan jembatan negara itu jika para pemimpin tidak menerima persyaratan proposal Amerika Serikat saat ini.
Meskipun masa berlaku perjanjian gencatan senjata selama dua minggu akan segera berakhir, The New York Times melaporkan bahwa negosiasi akan dilanjutkan minggu ini dengan Wakil Presiden JD Vance dan Mohammad Bagher Ghalibaf, Ketua Parlemen Iran, yang memimpin pembicaraan tersebut.