
UPdates—Setidaknya 160 orang tewas dan ratusan lainnya hilang setelah banjir bandang serta tanah longsor di sepanjang perbatasan Nepal-Tibet menyapu bersih desa-desa serta merusak jalan dan infrastruktur.
You may also like :
Banjir Bandang Dahsyat Terjang Nepal, 400 Turis Hilang, Dikhawatirkan Banyak yang Tewas
Banjir tersebut terjadi pada Rabu pagi di Rasuwa, tepat di sebelah utara ibu kota Nepal, Kathmandu.
You might be interested :
Gempa Magnitudo 7,4 Guncang Kolombia, Sudah 111 Orang Dilaporkan Tewas
Informasi awal menunjukkan bencana ini dipicu oleh gempa bumi yang menyebabkan longsoran salju, di mana lelehan salju mengalir deras ke Sungai Bhote Koshi.
Operasi pencarian sedang berlangsung di kedua sisi perbatasan, dan jumlah korban tewas diperkirakan akan meningkat secara signifikan dalam beberapa hari mendatang.
Media pemerintah Tiongkok, yang menguasai Tibet, melaporkan adanya banyak korban, sementara pejabat Nepal memperkirakan akan terjadi kerugian dalam skala besar.
Para pejabat menyatakan bahwa upaya sedang dilakukan untuk melacak keberadaan 579 wisatawan, termasuk 466 warga negara asing dari 28 negara berbeda.
Menurut pihak kepolisian, dari wisatawan yang belum diketahui keberadaannya sejauh ini, 113 orang adalah warga Nepal, 54 orang berasal dari AS, dan 33 orang merupakan warga negara Inggris.
Sebagaimana dilansir Keidenesia.tv dari BBC, Kamis, 27 Agustus 2026, media pemerintah Tiongkok melaporkan tiga orang tewas dan 265 orang hilang di Tibet.
Wisatawan yang hilang tersebut mencakup 12 pelancong asal Inggris, serta warga negara Amerika Serikat, Malaysia, Afrika Selatan, dan India.
Alpine Eco Trek, perusahaan yang menawarkan tur berpemandu dan ekspedisi di Nepal, mengonfirmasi bahwa 12 warga negara Inggris yang mengikuti tur melintasi perbatasan Nepal-Tibet dinyatakan hilang.
Ram Kumar Adhikari, manajer Alpine Eco Trek, mengatakan bahwa dua warga negara Irlandia dan empat warga negara Afrika Selatan yang juga mengikuti perjalanan tersebut diperkirakan hilang.
Menurut catatan perjalanan yang dibagikan kepada kantor berita PA, usia warga negara Inggris yang hilang berkisar antara 13 hingga 65 tahun.
Beberapa wilayah di hilir Sungai Bhote Koshi, yang mengalir dari Tibet ke Nepal, berada dalam status siaga tinggi; akses jalan, jaringan komunikasi, dan pasokan listrik di kawasan tersebut juga terganggu. Pihak berwenang menyatakan bahwa jalan utama menuju Kathmandu ditutup.
Video terverifikasi dari Nepal memperlihatkan sebuah jembatan hanyut dan bangunan bertingkat runtuh akibat derasnya arus banjir, serta sebuah kota dengan banyak bangunan yang hancur.
BBC Verify telah mengidentifikasi lokasi klip tersebut di kawasan kota Trishuli Bazaar, Distrik Nuwakot, Provinsi Bagmati, sekitar 25 km (16 mil) di sebelah barat laut Kathmandu.
Video tersebut memperlihatkan Sungai Trishuli yang tiba-tiba meluap akibat aliran air dalam jumlah sangat besar; volume dan kecepatan air tampak meningkat drastis serta dipenuhi sedimen.
Sekitar detik ke-40 dalam klip tersebut, derasnya arus banjir bandang menghantam jembatan hingga lepas dari penyangganya dan menghanyutkannya dengan cepat ke arah hilir. Beberapa detik kemudian, sejumlah bangunan juga runtuh.
Video kedua yang telah diverifikasi, direkam dari lokasi yang sama, memperlihatkan dampak kehancuran pascabanjir. Permukaan air sungai telah naik secara signifikan, sementara pepohonan dan banyak bangunan yang terlihat dalam video sebelumnya telah hanyut terbawa arus.
Sebuah video yang direkam dari dalam bus di Trishuli memperlihatkan puluhan orang berusaha melarikan diri saat banjir bandang menerjang lembah tersebut.
Video terverifikasi itu memperlihatkan air banjir yang meluap dengan cepat dan mengalir deras di sungai, sementara banyak orang berusaha menyelamatkan diri dengan berjalan kaki, mengendarai sepeda motor, maupun kendaraan lainnya.
Suara penumpang yang berteriak panik terdengar dari dalam bus saat kendaraan itu melaju di jalan yang membentang di sepanjang tepi sungai.
Belum diketahui secara pasti berapa banyak bangunan yang hancur, namun banyak bangunan di dekat tepian sungai telah lenyap, runtuh sebagian, atau tertutup lapisan sedimen akibat dahsyatnya arus banjir.
Tim penyelamat menggunakan alat berat (ekskavator) untuk mengevakuasi seorang wanita lanjut usia ke tempat aman. Di latar belakang, terlihat bangunan-bangunan yang terendam lumpur.
Yee Liang, seorang pengusaha asal Tiongkok yang berbasis di Kathmandu, mengatakan kepada BBC bahwa perusahaan logistik miliknya memiliki tujuh truk kontainer yang beroperasi di wilayah tersebut dengan awak dari Nepal.
"Kami kehilangan kontak dengan mereka semua. Tidak ada sinyal, jadi kami tidak bisa menghubungi siapa pun," ujarnya.
"Sepanjang pengetahuan saya, tidak ada peringatan sebelumnya. Longsor lumpur dan tanah memang sesekali terjadi, terutama pada musim hujan, namun kejadian kali ini tampaknya jauh lebih parah," ujarnya.
Juru bicara Angkatan Darat Nepal, Rajarm Basnet, mengatakan kepada BBC bahwa upaya penyelamatan sedang dilakukan untuk mengevakuasi 115 orang dari desa Mailung.
Kementerian Dalam Negeri Nepal memperingatkan kemungkinan adanya korban jiwa dalam jumlah besar di wilayah Timure, Syabrubesi, dan Betrawati.
Banjir juga telah menyebabkan kerusakan pada proyek pembangkit listrik tenaga air Trishuli.
Besarnya tingkat kerusakan di wilayah Tibet belum diketahui secara pasti.
Otoritas penanggulangan bencana Nepal mengimbau warga yang tinggal di dekat bantaran sungai di wilayah rawan untuk tetap waspada dan mengambil langkah-langkah pencegahan.
"Upaya untuk mengambil langkah-langkah yang diperlukan telah dimulai melalui koordinasi dengan tim medis, anggota pramuka, dan Palang Merah," ujar Perdana Menteri Shah dalam sebuah unggahan di media sosial, setelah mengadakan rapat darurat untuk meninjau situasi.
Menteri Luar Negeri Nepal, Shishir Khanal, menyampaikan kepada parlemen bahwa 26 personel polisi, sembilan petugas polisi bersenjata, dan 44 anggota militer dilaporkan hilang.
Ia mengatakan bahwa gempa bumi yang terjadi pada pukul 08.37 waktu setempat telah memicu longsoran salju, dan terdapat informasi awal yang menyebutkan bahwa hal tersebut mengakibatkan terjadinya banjir bandang.
Tahun lalu, wilayah Rasuwa dilanda banjir mematikan yang menewaskan 18 orang akibat pecahnya gletser di sisi perbatasan wilayah Tiongkok.