
UPdates—Arab Saudi meminta dukungan dari sekutunya karena stok rudal pencegat mereka menipis di tengah pertempuran berkepanjangan dengan kelompok Houthi Yaman yang didukung Iran. Demikian dilaporkan Associated Press pada Rabu, 16 September waktu setempat, mengutip dua sumber.
You may also like :
Turki, Pakistan, Malaysia, Bangladesh, dan Maladewa Kutuk Serangan di Dekat Makkah, Houthi Membantah
Riyadh baru-baru ini meminta Prancis, Inggris, Pakistan, dan Mesir untuk mengerahkan aset pertahanan udara guna membantu melindungi kerajaan tersebut dari rudal dan pesawat nirawak (drone) yang diluncurkan oleh Houthi serta kelompok bersenjata lain yang didukung Iran.
You might be interested :
Trump Bilang Negara-Negara yang tidak Membantu AS Melawan Iran harus Bayar Ganti Rugi Setelah Perang Berakhir
Sebagaimana dilansir Keidenesia.tv dari Asia Today, Kamis, 17 September 2026, salah satu sumber mengatakan permintaan itu muncul karena AS—sekutu utama dan pemasok senjata Arab Saudi—juga mengalami penipisan stok rudal pencegat akibat perang dengan Iran.
Arab Saudi terlibat dalam bentrokan dengan Houthi di tengah dampak dari perang AS-Iran.
Militer Saudi menyatakan pada 16 September bahwa mereka telah mencegat dan menghancurkan pesawat nirawak musuh yang diluncurkan oleh organisasi teroris Houthi, seraya menambahkan bahwa pesawat nirawak tersebut telah memasuki wilayah udara terlarang di atas kota suci Mekkah.
Pihak Houthi membantah menargetkan Mekkah, kota paling suci dalam Islam yang terletak di Arab Saudi, dan menyatakan bahwa target mereka adalah fasilitas minyak serta pangkalan militer.
Arab Saudi, eksportir minyak terbesar di dunia, menghadapi tekanan yang meningkat untuk menjaga keamanan jalur distribusi sumber dayanya sekaligus melindungi wilayahnya, namun belum menemukan solusi yang jelas.
Sekutu-sekutu utama Arab Saudi telah menyatakan dukungan diplomatik namun belum memberikan bantuan militer yang signifikan.
AS, sekutu terbesar Riyadh, telah menjual senjata senilai miliaran dolar kepada Arab Saudi dan menjanjikan bentuk dukungan lainnya, namun menyatakan tidak berniat melakukan intervensi dalam konflik saat ini.
Wakil Presiden AS JD Vance mengatakan pada 14 September bahwa pemerintah terus menjalin komunikasi dengan Arab Saudi dan menambahkan bahwa AS juga telah berbicara secara langsung dengan pihak Houthi.
Pada 15 September, Inggris—melalui juru bicara Kantor Perdana Menteri, Tom Wells—menyatakan bahwa mereka menjalin kemitraan pertahanan yang erat dengan Arab Saudi, namun menolak mengungkapkan apakah Riyadh telah meminta bantuan militer atau apakah pasukan Inggris saat ini ditempatkan di kerajaan tersebut.
Turki dan Pakistan, yang memiliki pakta pertahanan bersama dengan Arab Saudi, kini menghadapi ujian nyata pertama atas kesepakatan tersebut di tengah pertempuran yang sedang berlangsung.
Pejabat Turki dan Pakistan mengatakan kepada AP bahwa mereka belum menerima permintaan dukungan dari Arab Saudi untuk merespons serangan Houthi.
Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif menyatakan bahwa negaranya akan berdiri bahu-membahu bersama Arab Saudi dengan teguh.
Sebagaimana dilaporkan oleh kantor berita pemerintah, Anadolu Agency, Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan juga menyatakan solidaritasnya dengan mengatakan bahwa tidak ada negara yang bisa bersikap acuh tak acuh.