
UPdates—Kapal Arupadhatu 01 dan rombongan jurnalis yang meliput aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau hilang tanpa jejak di perairan Selat Sunda.
You may also like :
Kapal Virgo Transport 8 dengan 243 Penumpang Hilang Kontak di Laut Jawa
Selama 10 hari operasi pencarian, Tim SAR Gabungan yang menyisir laut, udara, hingga sejumlah wilayah di sekitar lokasi tidak menemukan tanda-tanda keberadaan mereka.
You might be interested :
Tim SAR belum Temukan Tanda-Tanda Keberadaan 5 Wartawan Peliput Anak Krakatau
Kapal tersebut hilang kontak 7 September lalu. Operasi SAR besar-besaran telah dilakukan selama tujuh hari dan diperpanjang tiga hari sesuai prosedur.
Proses pencarian selama 10 hari ini melibatkan Basarnas Banten, Lampung, hingga Bengkulu.
Kamis, 17 September 2026 hari ini, Basarnas Banten secara resmi menghentikan operasi pencarian. Sama sekali tidak ada temuan yang mengarah terhadap penumpang kapal Arupadhatu 1 yang hilang kontak itu.
"Dari semua yang kita evaluasi, di awal tadi tentang aturan kami di Basarnas ini, operasi SAR tujuh hari, ketujuh juga kita lakukan pencarian tidak ada tanda-tanda, objek juga, tadi sudah disampaikan Polair dan TNI AL juga. Kalau mengacu pada peraturan kami tersebut, seharusnya kita sudah closed," ujar Kepala Basarnas Banten, Al Amrad, Kamis, 17 September sebagaimana dilansir Keidenesia.tv dari CNN Indonesia.
Meski sudah resmi ditutup, jika ada informasi temuan material terkait kapal Arupadhatu 1 beserta penumpangnya, Al Amrad mengatakan operasi SAR bisa dibuka kembali.
"Kami juga sudah menyampaikan e-brodcast, ke seluruh kapal yang melintas di Selat Sunda. Termasuk pencarian ke pulau-pulau tersebut (sekitar Selat Sunda). Kami akan memperkuat lagi dengan e-brodcast, jika ada informasi atau temuan, tentu akan kami tindak lanjuti," jelasnya.
Lima jurnalis yang hilang saat melakukan peliputan di sekitar Gunung Anak Krakatau yakni Muhammad Bagus (Pewarta Foto Antara), Arie Basuki (Pewarta Foto Senior Merdeka.com), Yudistiro Pranoto (Jurnalis iNews), Firman Daus (Jurnalis Anadolu Agency), dan Donal (Jurnalis freelance).
Kakak Kandung Yudistiro, Fera mengatakan bahwa pihak keluarga sudah ikhlas. Bagi mereka, apa yang menimpa Yudistiro merupakan takdir Sang Kuasa.
"Kami sudah ikhlas apapun yang sudah terjadi nanti, kita tidak bisa melawan takdir Allah. Kita tidak bisa berbuat apa-apa, kita hanya bisa berdoa, kalau masih bisa diselamatkan kami bersyukur kalau tidak kami ikhlas," katanya, Rabu, 16 September 2026 sebagaimana dilansir dari RRI.