
UPdates—Serangan udara Rusia di Komyshuvakha, Oblast Zaporizhzhia, Ukraina, menewaskan 29 orang dan menyebabkan 48 orang lainnya hilang.
You may also like :
Netanyahu Desak Trump Segera Serang Iran, Teheran: Perang Baru Bakal Lebih Lama
Sementara itu, dalam serangan terpisah semalam di sebuah fasilitas medis di Kharkiv, 73 orang mengalami luka-luka.
You might be interested :
Serangan Drone Rusia di Stasiun Kereta Api Ukraina Tewaskan 14 Orang
Mykhailo Semikin, kepala Administrasi Militer Oblast Zaporizhzhia, mengumumkan jumlah korban tewas terbaru akibat serangan di Komyshuvakha melalui media sosial.
Lima orang lainnya terluka, dan operasi pencarian serta penyelamatan masih terus berlangsung di lokasi kejadian.
“Skala tragedi ini sungguh mengerikan. Di balik setiap angka, terdapat nyawa manusia—sebuah keluarga yang telah kehilangan orang-orang terkasih atau masih menanti kabar mengenai kerabat mereka,” ujar Semikin sebagaimana dilansir Keidenesia.tv dari Novinite, Selasa, 3 November 2026.
Pada 2 November, pasukan Rusia menyerang sebuah sekolah yang digunakan sebagai pusat distribusi bantuan kemanusiaan di Komyshuvakha.
Laporan awal menyebutkan setidaknya 24 orang tewas, termasuk dua petugas penyelamat dan empat petugas kepolisian.
Layanan Darurat Negara Ukraina (DSNS) menyebut, awalnya dilaporkan lima orang terluka, termasuk dua petugas penyelamat.
Presiden Volodymyr Zelensky menyatakan bahwa pesawat Rusia melancarkan beberapa serangan ke permukiman tersebut sepanjang pagi.
Serangan pertama menghantam sekolah yang biasa digunakan untuk menyalurkan bantuan kemanusiaan kepada penduduk setempat.
Selanjutnya, pasukan Rusia menjatuhkan sembilan bom udara lagi ke sebuah tempat perlindungan di mana warga sedang berlindung.
Zelensky menggambarkan serangan tersebut sangat mengerikan dan menyatakan bahwa hal itu menunjukkan Rusia sama sekali tidak berniat untuk meredakan ketegangan.
“Pasukan Rusia tidak mungkin tidak mengetahui bahwa penduduk setempat yang tetap tinggal di Komyshuvakha menerima bantuan kemanusiaan di sana setiap minggu,” ujar presiden Ukraina tersebut.