
UPdates—Sedikitnya 14 orang tewas setelah sebuah pesawat nirawak (drone) bertenaga jet milik Rusia menghantam peron yang dipadati orang di stasiun kereta api utama di kota Dnipro, Ukraina tengah, Kamis, 29 Oktober 2026.
You may also like :
AS Siap Serang Iran 96 Jam Setelah Perintah Trump, Israel Lobi Bergabung
Kepala wilayah Dnipropetrovsk, Oleksandr Hanzha, mengatakan setidaknya 14 orang lainnya terluka dalam serangan tersebut, termasuk seorang anak laki-laki berusia 11 tahun.
You might be interested :
Kesal Dikecam Zelensky Soal Kesepakatan Diesel dengan Rusia, Trump: Saatnya Ukraina punya Presiden Baru
Operator kereta api negara Ukraina, Ukrzaliznytsia, menyatakan bahwa sebuah kereta penumpang yang menuju kota Zaporizhzhia di wilayah selatan sedang berada di salah satu peron di Dnipro saat pesawat nirawak itu menghantam.
Militer Rusia belum memberikan komentar secara terbuka. Rusia telah berulang kali menyerang jaringan kereta api Ukraina yang luas, namun Moskow membantah sengaja menargetkan warga sipil.
Menurut kepala Ukrzaliznytsia, Oleksandr Pertsovsky, tingkat ancaman yang lebih tinggi telah diumumkan di Dnipro sebelum serangan terjadi pada hari Kamis.
Ia mengatakan banyak orang berada di peron saat pesawat nirawak Rusia itu menghantam.
"Namun sayangnya, masih ada banyak orang di peron tersebut," ujarnya sebagaimana dilansir Keidenesia.tv dari BBC, Kamis, 29 Oktober 2026.
Wali Kota Dnipro, Borys Filatov, menyebut insiden itu sebagai sebuah tragedi, seraya menambahkan bahwa pesawat nirawak tersebut menghantam kereta listrik sipil.
Gambar-gambar dari layanan penyelamat Ukraina memperlihatkan lubang besar yang menganga di peron yang dipenuhi jenazah (disamarkan), di dekat kereta api yang rusak akibat ledakan dengan jendela-jendela yang hancur.
"Rusia menggunakan pesawat nirawak untuk menyerang peron tempat kereta komuter reguler dan kereta penumpang reguler sedang berhenti," kata Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky.
Ia menyerukan penerapan sanksi lebih lanjut dari AS, Eropa, dan G7 terhadap Rusia menyusul insiden tersebut.
Zelensky juga kembali melontarkan kritik terhadap kesepakatan kontroversial yang dicapai awal bulan ini antara Donald Trump dan Vladimir Putin, yang melonggarkan sejumlah sanksi terhadap Rusia dan mengizinkan AS untuk mengimpor bahan bakar diesel dari Rusia.
Di wilayah lain di Ukraina, dua remaja putri berusia 15 tahun tewas dalam serangan rudal Rusia di pusat kota Chernihiv, di bagian utara negara itu, ungkap kepala wilayah Vyacheslav Chaus. Ia menambahkan, setidaknya 11 orang lainnya, termasuk anak-anak, mengalami luka-luka.
Serangan tersebut terjadi di tengah upaya untuk mempertahankan gencatan senjata lokal yang rapuh di kota Oleshky yang terkepung. Kota ini telah berada di bawah pendudukan Rusia sejak 2022, di mana penduduknya terjebak tanpa akses terhadap makanan, air, obat-obatan, dan listrik.