
UPdates—Pemerintah tengah menyiapkan program kompor listrik sebagai bagian dari strategi diversifikasi energi nasional.
You may also like :
Tambang Raja Ampat Banjir Kritik, Pemerintah Pastikan Sesuai Undang-undang
Program tersebut diusulkan mendapat alokasi anggaran sekitar Rp815 miliar dalam pembahasan RAPBN.
You might be interested :
Seperti BBM Bersubsidi, Pemerintah Pastikan Harga LPG 3 Kg tak Naik
Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia menjelaskan, ketergantungan Indonesia terhadap impor LPG sangat tinggi yakni sekitar 80% dari kebutuhan nasional.
Kondisi tersebut membuat devisa negara terkuras hingga lebih dari Rp130 triliun per tahun. Ini di luar beban subsidi yang nilainya telah melampaui Rp80 triliun.
“Kalau kondisi ini terus kita biarkan tanpa mencari diversifikasi bauran energi, itu akan menjadi soal. Maka salah satu alternatifnya adalah kita dorong kompor listrik,” kata Bahlil, di Gedung Nusantara 1, Komplek Parlemen Senayan, Jakarta, Senin, 15 Juni 2026 sebagaimana dilansir Keidenesia.tv dari RRI.
Program tersebut kata dia dirancang untuk menjangkau masyarakat yang menggunakan listrik berdaya rendah. Termasuk di daerah kecamatan dan pedesaan.
Pemerintah saat ini mengkaji penggunaan kompor listrik yang dapat beroperasi pada daya di bawah 900 VA.
Bahlil menambahkan, jumlah unit yang akan disalurkan melalui program tersebut masih menunggu pembahasan anggaran bersama DPR.
Kepastian mengenai target distribusi diperkirakan baru diketahui setelah pembahasan RAPBN pada Agustus mendatang.
“Nanti tunggu pembahasan anggaran dengan DPR, mungkin di bulan Agustus baru bisa keluar berapa jumlah unitnya,” ujarnya.
Bahlil juga menanggapi keraguan publik terhadap program kompor listrik yang sebelumnya sempat menuai penolakan. Ia menegaskan teknologi yang saat ini dikaji berbeda dengan model terdahulu.
Menurutnya, perkembangan teknologi telah menghasilkan kompor listrik yang lebih baik dan lebih efisien.
“Semakin ke sini ada teknologi yang jauh lebih baik dibandingkan teknologi kompor listrik yang lama,” ucap Bahlil.
Saat ini Kementerian ESDM masih mengevaluasi efektivitas teknologi baru tersebut. Termasuk membandingkan manfaat yang dihasilkan dengan kompor listrik generasi sebelumnya.