
UPdates—Sekitar 250 orang, termasuk anak-anak, dikhawatirkan hilang setelah sebuah kapal yang membawa pengungsi Rohingya dan warga negara Bangladesh terbalik di Laut Andaman.
You may also like :
Update Tenggelamnya KM Tunu Pratama Jaya: 31 Selamat, 4 Tewas, Polri Kerahkan 4 Kapal Bantu Pencarian Korban
Komisaris Tinggi PBB untuk Pengungsi (UNHCR) dalam sebuah pernyataan menyebut para pengungsi tersebut dalam perjalanan ke Malaysia saat insiden ini tejadi.
You might be interested :
Junta Militer Myanmar Bom Rumah Sakit di Rakhine, 33 Tewas, 27 Kritis
“Kapal pukat, yang berangkat dari Teknaf di Bangladesh selatan dan sedang menuju Malaysia, dilaporkan tenggelam karena angin kencang, laut yang bergelombang, dan kepadatan penumpang,” kata UNHCR sebagaimana dilansir Keidenesia.tv dari The Straits Times, Rabu, 15 April 2026.
Ribuan warga Rohingya, Muslim minoritas yang teraniaya di Myanmar, mempertaruhkan nyawa mereka setiap tahunnya untuk melarikan diri dari penindasan dan perang saudara di negara itu. Mereka melakukan perjalanan melalui laut, seringkali menggunakan perahu rakitan.
Orang-orang Rohingya yang berada di atas perahu terbaru kemungkinan besar meninggalkan kamp-kamp besar di Cox's Bazar, Bangladesh, tempat lebih dari satu juta pengungsi yang terpaksa mengungsi dari negara bagian Rakhine di Myanmar barat tinggal dalam kondisi kumuh.
Negara bagian Rakhine telah menjadi lokasi pertempuran sengit antara militer dan Tentara Arakan, kelompok pemberontak etnis minoritas, untuk memperebutkan kendali wilayah tersebut.
Keadaan pasti seputar insiden terbaru ini belum jelas, tetapi informasi awal menunjukkan bahwa kapal tersebut membawa sekitar 280 orang dan berangkat dari Bangladesh pada 4 April.
Penjaga Pantai Bangladesh (BCG) mengatakan salah satu kapalnya, yang sedang menuju Indonesia, berhasil menyelamatkan sembilan orang dari laut, termasuk seorang wanita, pada 9 April.
“Kapal berbendera Bangladesh M.T. Meghna Pride... melihat beberapa orang mengapung di laut menggunakan drum dan kayu gelondongan dan menyelamatkan mereka dari perairan dalam dekat Kepulauan Andaman,” kata juru bicara BCG Letnan Komandan Sabbir Alam Sujan kepada AFP.
Rafiqul Islam, salah satu korban selamat, mengatakan kepada AFP bahwa ia dibujuk naik ke kapal oleh para penyelundup yang menjanjikannya pekerjaan di Malaysia.
“Beberapa dari kami ditahan di area penampungan kapal pukat, beberapa meninggal di sana. Saya terbakar oleh minyak yang tumpah dari kapal pukat,” kata Rafiqul, 40 tahun, menambahkan bahwa kapal tersebut berlayar selama empat hari sebelum terbalik.
“Kami terapung selama hampir 36 jam sebelum sebuah kapal menyelamatkan kami dari perairan dalam,” ungkapnya.
Malaysia yang relatif makmur adalah rumah bagi jutaan migran dari daerah-daerah miskin di Asia, banyak di antaranya tidak memiliki dokumen, yang bekerja di berbagai industri termasuk konstruksi dan pertanian.
Penyeberangan laut, yang difasilitasi oleh sindikat perdagangan manusia, berbahaya dan sering menyebabkan kapal yang kelebihan muatan terbalik.
UNHCR mengatakan insiden terbaru ini mencerminkan konsekuensi mengerikan dari pengungsian yang berkepanjangan dan tidak adanya solusi berkelanjutan bagi warga Rohingya.
“Tragedi ini merupakan pengingat akan upaya-upaya yang sangat dibutuhkan untuk mengatasi akar penyebab pengungsian di Myanmar dan menciptakan kondisi yang memungkinkan pengungsi Rohingya untuk kembali ke rumah secara sukarela, aman, dan bermartabat,” demikian pernyataan tersebut.
Laut Andaman membentang di sepanjang pantai barat Myanmar, Thailand, dan Semenanjung Malaya.
UNHCR menyatakan pada tahun 2025 bahwa 427 warga Rohingya dikhawatirkan tewas di laut dalam dua kecelakaan kapal di lepas pantai Myanmar pada bulan Mei.