
UPdates—Iran tidak mau terkecoh dengan pernyataan-pernyataan pejabat Amerika Serikat. Mereka memilih siaga penuh untuk kemungkinan perang lanjutan.
You may also like :
“Trump Mengamuk”: Jurnalis Sebut Dia Salah Prediksi Perang Singkat, Iran Pegang Kendali karena Harga Minyak dan Selat Hormuz
Sebelumnya, Presiden AS, Donald Trump mengatakan kepada kongres Amerika bahwa permusuhan dengan Iran sudah berakhir.
You might be interested :
Netanyahu Perintahkan Serangan Besar-besaran ke Gaza di Tengah Gencatan Senjata
Namun, seorang pejabat militer senior Iran memperingatkan bahwa konflik baru dengan AS kemungkinan besar akan terjadi.
Menurut kantor berita semi-resmi Iran, Fars, Wakil Inspektur Markas Militer, Mohammad Jafar Asadi mengatakan, AS terbukti seringkali melanggar perjanjian.
"Konflik baru antara Iran dan Amerika Serikat kemungkinan besar akan terjadi, dan bukti juga menunjukkan bahwa Amerika Serikat tidak mematuhi komitmen atau perjanjian apa pun," kata Mohammad Jafar Asadi dalam sebuah pernyataan pada hari Sabtu, 2 Mei 2026 sebagaimana dilansir Keidenesia.tv dari Anadolu.
Mohammad Jafar Asadi juga menduga bahwa pernyataan pejabat AS hanya bagian dari taktik mereka.
"Tindakan dan pernyataan pejabat AS sebagian besar berorientasi pada media, yang pertama bertujuan untuk mencegah penurunan harga minyak dan kedua untuk menghindari kesulitan yang telah mereka ciptakan sendiri," jelasnya.
Makanya, ia memastikan angkatan bersenjata Iran tidak akan lengah. "(Angkatan bersenjata) siap siaga penuh untuk setiap petualangan dan kesalahan perhitungan baru oleh Amerika Serikat," tegas Asadi.
AS bersama Israel memulai serangan terhadap Iran pada 28 Februari saat negosiasi terkait nuklir sedang berlangsung di Oman. Serangan mendadak itu memicu pembalasan dari Teheran.
Selain membobardir wilayah Israel, Iran juga menyerang aset AS di negara-negara Teluk dan menutup Selat Hormuz yang menjadi jalur utama energi dunia.
Gencatan senjata diumumkan pada 8 April melalui mediasi Pakistan, diikuti oleh pembicaraan di Islamabad pada 11-12 April, tetapi kesepakatan tidak dapat dicapai.
Presiden AS Donald Trump kemudian secara sepihak memperpanjang gencatan senjata tanpa menetapkan jangka waktu baru, atas permintaan Pakistan.
Menurut kantor berita resmi Iran, IRNA, Iran mengajukan proposal baru kepada Pakistan pada hari Kamis untuk melanjutkan negosiasi dengan AS yang bertujuan mencapai kesepakatan untuk mengakhiri perang.
Masih belum jelas apakah upaya untuk menghidupkan kembali pembicaraan akan berhasil.