
UPdates—Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu mengatakan ia yakin Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei masih hidup, meskipun belum terlihat di depan publik sejak diangkat untuk menggantikan ayahnya yang terbunuh dalam serangan di awal perang.
You may also like :
Iran Bilang Sebagian Besar Kemampuan Rudalnya tidak Digunakan Melawan AS-Israel
Ketika ditanya pendapatnya tentang kondisi fisik dan pengaruh operasional Khamenei selama wawancara dengan "60 Minutes" CBS, Netanyahu mengatakan dia masih hidup, namun tidak tahu di mana posisi Pemimpin Tertinggi Iran itu.
You might be interested :
Turki Keluarkan Surat Perintah Penangkapan Netanyahu dan 36 Pejabat Israel
"Saya pikir dia masih hidup. Bagaimana kondisinya, sulit untuk dikatakan, Anda tahu? Dia bersembunyi di bunker atau di tempat rahasia," katanya sebagaimana dilansir Keidenesia.tv dari APA, Senin, 11 Mei 2026.
Perdana menteri mengatakan Mojtaba berusaha untuk menegakkan otoritasnya. Namun, ia menilai otoritas ini lebih rendah dibandingkan dengan yang pernah dipegang oleh pendahulunya, Ali Khamenei.
Pada kesempatan itu, Netanyahu juga mengatakan bahwa perang dengan Iran belum berakhir karena AS dan Israel masih berupaya mengakhiri ambisi nuklir Teheran.
"Masih ada material nuklir, uranium yang diperkaya yang harus dikeluarkan dari Iran," tegasnya.
"Masih ada situs pengayaan yang harus dibongkar, masih ada proksi yang didukung Iran, ada rudal balistik yang masih ingin mereka produksi... masih ada pekerjaan yang harus dilakukan," lanjutnya.
Komentar Netanyahu muncul menjelang kunjungan Presiden AS, Donald Trump ke China akhir pekan ini, di mana ia diperkirakan akan bertemu dengan Presiden China Xi Jinping.
Trump pada hari Minggu menolak tawaran balasan Iran terhadap proposal AS untuk mengakhiri perang, menyebutnya "SAMA SEKALI TIDAK DAPAT DITERIMA!" dalam sebuah unggahan di Truth Social.
Wall Street Journal pada hari Minggu melaporkan detail tanggapan terbaru Iran.
Menurut Journal, Iran tidak menyetujui tuntutan AS mengenai program nuklirnya dan persediaan uranium yang diperkaya tinggi, melainkan menyerukan negosiasi nuklir terpisah dan agar sebagian uranium yang diperkaya tinggi tersebut diencerkan dan sisanya dikirim ke negara ketiga. Uranium tersebut akan dikembalikan ke Iran jika AS keluar dari kesepakatan, kata Journal.
Selain itu, AS akan mengakhiri blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran, sementara sebagai imbalannya, Teheran akan membuka Selat Hormuz untuk lalu lintas komersial.
Amerika menginginkan jaminan bahwa Iran akan mengakhiri program nuklirnya sebagai bagian dari kesepakatan perdamaian apa pun.
Iran dilaporkan setuju untuk menangguhkan pengayaan uranium, tetapi untuk jangka waktu yang lebih pendek daripada moratorium 20 tahun yang diusulkan oleh AS. Iran juga menolak pembongkaran fasilitas nuklirnya.