Logo Binance dengan latar belakang teks komputer berwarna biru yang kabur. (Foto: Reuters)

Pencurian Rp114,43 Triliun Mata Uang Kripto, Terbesar Sepanjang Sejarah, Peretas Korea Utara Dicurigai

30 October 2026
Font +
Font -
[ai_summarizer]

UPdates—Raksasa mata uang kripto Binance menyatakan bahwa aset digital senilai $6,3 miliar (Rp114,43 triliun) telah terdampak oleh apa yang diduga sebagai peretasan kripto terbesar yang pernah tercatat.

You may also like : tentara korutKetegangan Meningkat, Korut dan Korsel Saling Pamer Kekuatan Militer

Bursa kripto terbesar di dunia tersebut mengatakan sekitar setengah dari aset tersebut telah dibekukan, namun sebagian besar masih berada di tangan peretas. Pihak Binance menambahkan bahwa mereka akan menanggung semua kerugian.

Perusahaan tersebut menjelaskan bahwa pemeriksaan awal menunjukkan adanya laptop seorang insinyur yang disusupi sehingga memungkinkan penyerang melakukan penarikan tanpa izin.

"Penyelidikan lanjutan kami telah menemukan titik-titik pelanggaran lainnya," kata perusahaan tersebut sebagaimana dilansir Keidenesia.tv dari BBC, Jumat, 30 Oktober 2026.

Dua firma analitik mengaitkan insiden ini—yang melampaui rekor peretasan senilai $1,5 miliar (Rp27,2 triliun) di bursa Bybit pada tahun 2025—dengan unit peretas asal Korea Utara yang disebut TraderTraitor.

Firma keamanan siber Check Point menyatakan bahwa unit tersebut juga dikenal dalam industri ini sebagai Lazarus Group, kelompok yang dituding bertanggung jawab atas peretasan di Bybit pada tahun 2025.

Kepala petugas keamanan informasi (CISO) Check Point, Jayant Dave, mengatakan bahwa nilai kerugian yang diperkirakan oleh Binance menjadikannya pencurian kripto terbesar yang pernah tercatat.

Perusahaan investigasi berbasis kecerdasan buatan (AI), TRM Labs, menyebutkan dalam sebuah laporan bahwa beberapa elemen dalam serangan terhadap Binance menyerupai insiden-insiden sebelumnya yang terkait dengan Korea Utara, termasuk peretasan di Bybit.

Kepala kebijakan global TRM Labs, Ari Redbord, mengatakan kepada BBC bahwa peretasan Binance merupakan momen krusial yang belum pernah disaksikan sebelumnya dalam industri ini.

Redbord menambahkan, karena penyerang masih memegang sejumlah besar aset curian, upaya untuk melacak dan memulihkan dana tersebut masih jauh dari selesai.

Binance, yang didirikan di Tiongkok pada tahun 2017, memungkinkan pengguna untuk memperdagangkan aset digital dan diperkirakan memiliki lebih dari 300 juta pengguna terdaftar di seluruh dunia.

 

Pada tahun 2024, perusahaan tersebut menyatakan bahwa mereka mengelola aset dengan nilai lebih dari $160 miliar. Bursa kripto tersebut telah menjadi subjek pengawasan regulasi di berbagai belahan dunia.

Chainalysis, sebuah firma analitik kripto, juga menyatakan memiliki tingkat keyakinan tinggi bahwa kelompok yang terkait dengan Korea Utara terlibat dalam peretasan tersebut.

Selama beberapa tahun terakhir, pihak-pihak yang terafiliasi dengan Korea Utara telah berfokus menyerang perusahaan mata uang kripto untuk mencuri aset digital dalam jumlah besar.

Badan keamanan negara-negara Barat sebelumnya menyatakan bahwa dana hasil curian tersebut digunakan untuk mendanai program pengembangan senjata nuklir dan rudal Korea Utara.

Rezim tersebut sebelumnya selalu membantah terlibat dalam berbagai aksi peretasan.

Eric Jardine, Kepala Riset di Chainalysis, mengimbau setiap bursa kripto untuk tetap waspada, mengingat platform-platform ini merupakan target yang menarik bagi peretas karena besarnya nilai aset yang tersimpan di dalamnya.

Binance tidak memberikan tanggapan langsung atas pertanyaan BBC mengenai kemungkinan keterkaitan insiden ini dengan Korea Utara.

"Kami bekerja sama secara erat dengan mitra penegak hukum untuk mengidentifikasi para pelaku kejahatan ini dan membawa mereka ke pengadilan," jelas Binance.

Insiden ini menyasar Binance.com, sementara Binance.US—platform kripto yang jauh lebih kecil dan khusus melayani penduduk Amerika—menyatakan bahwa platform mereka tidak terdampak oleh masalah ini.

Salah satu CEO Binance, Richard Teng, mengungkapkan bahwa investigasi awal perusahaan menunjukkan peretasan bermula dari laptop seorang insinyur yang telah disusupi.

"Hal itu memberikan akses kepada peretas ke dalam service container, tempat mereka melakukan transaksi penarikan dana tanpa izin," ujarnya dalam sebuah pernyataan.

"Perlu ditegaskan: peretas tidak hanya menggunakan hak akses milik satu insinyur saja, dan ini bukan sekadar tindakan 'sekali klik'. Serangan ini melibatkan proses yang jauh lebih kompleks. Investigasi kami belum menunjuk individu tertentu sebagai pihak yang bertanggung jawab. Sejauh ini, kami tidak menemukan bukti adanya kebocoran kunci privat (private key) dompet kripto," jelasnya.

Ia menambahkan bahwa laporan evaluasi mendalam (post-mortem) akan disampaikan setelah investigasi rampung.

Dalam sebuah pembaruan melalui platform X, perusahaan menyatakan bahwa investigasi lanjutan menemukan adanya titik-titik pembobolan lain.

"Kami masih mengumpulkan fakta-fakta yang ada, dan akan segera memberikan informasi lebih lanjut begitu kami memperoleh temuan baru," jelas perusahaan itu.

Dave dari Check Point mengatakan bahwa serangan ini juga menyerupai peretasan terhadap platform pertukaran kripto Bitget pada bulan September, yang mengakibatkan kerugian sebesar $388 juta (Rp6,1 triliun).

"Ini menyiratkan bahwa para penyerang tidak lagi memerlukan kunci brankas. Mereka justru menargetkan sistem serta pihak-pihak yang memiliki wewenang untuk menggunakannya," kata Dave.

Dalam serangkaian unggahan, Yi He, salah satu kepala eksekutif Binance, menyampaikan terima kasih kepada berbagai penerbit mata uang kripto yang telah membekukan aset-aset tersebut.

"Keamanan adalah prioritas utama: penarikan dana saat ini dinonaktifkan sampai lingkungan sistem dipastikan aman," ujarnya.

Dua platform kripto besar lainnya, Tether dan Circle, menyatakan telah membekukan aset dengan total nilai sekitar $2,4 miliar sebagai respons terhadap potensi peretasan di Binance.

World Liberty Financial, sebuah perusahaan kripto yang memiliki keterkaitan dengan Presiden AS Donald Trump beserta keluarganya, menyatakan telah bekerja sama dengan mitra-mitranya untuk membekukan dana yang dicuri.

Platform pertukaran kripto Coinbase menyatakan bahwa mereka tidak terdampak oleh insiden tersebut dan terus memantau situasi yang berkembang.

Beberapa pengamat industri kripto telah menyuarakan kekhawatiran mengenai potensi peretasan di Binance, beberapa jam sebelum pihak bursa mengonfirmasi adanya masalah keamanan tersebut.

Bitcoin turun lebih dari 4% setelah munculnya peringatan tersebut. Harga mata uang kripto utama lainnya, termasuk Ethereum dan Solana, juga mengalami penurunan tajam.

Font +
Font -

Related UPdates

Icon IDfinance
Memuat data finansial...
Icon IDweather
Memuat data cuaca...

New Videos

Quote of the Day

capture

Mark Twain

"Rahasia untuk maju adalah memulai."
Load More >