Anggota Komisi X DPR RI Abdul Fikri Faqih. (Foto: Mentari/Karisma/DPR RI)

SD Negeri Kekurangan Siswa, Masuk SMA Malah Sulit

15 July 2026
Font +
Font -
Poin Penting Artikel
  • Banyak sekolah dasar (SD) negeri mengalami kekurangan siswa di tahun ajaran baru, bahkan beberapa sekolah hanya menerima dua atau tiga siswa baru.
  • Sementara itu, penerimaan siswa baru di sekolah menengah atas (SMA) negeri makin sulit, meskipun pemerintah telah mengubah skema penerimaan murid baru.
  • Anggota Komisi X DPR RI Abdul Fikri Faqih menilai bahwa fenomena kekurangan siswa di SD dan kesulitan masuk SMA negeri harus direspons dengan penataan sistem pendidikan nasional secara menyeluruh.
  • Fikri menyatakan bahwa perubahan demografi Indonesia, seperti laju pertumbuhan penduduk yang melambat, perlu menjadi dasar dalam perumusan kebijakan pendidikan.
  • Ia juga menyoroti pentingnya koordinasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan penyelenggara pendidikan untuk mewujudkan sistem pendidikan nasional yang adaptif dan adil.
  • Program-program pendidikan seperti Sekolah Rakyat dan Sekolah Unggulan Garuda perlu menjadi pelengkap untuk memperluas akses pendidikan, tanpa mengurangi perhatian terhadap sekolah-sekolah yang telah ada.
  • Implementasi putusan Mahkamah Konstitusi terkait pembiayaan pendidikan dasar memerlukan perencanaan yang matang untuk diterapkan secara efektif tanpa menimbulkan persoalan baru.
atau

UPdates–Sejumlah sekolah dasar (SD) negeri kekurangan siswa di tahun ajaran baru ini. Pada saat bersamaan, masuk SMA Negeri malah makin sulit.

You may also like : abdul fikri faqih1DPR Ingatkan BPS Harus Jujur Soal Data Sensus Ekonomi 2026

Di sejumlah wilayah, banyak SD yang mengeluhkan minimnya murid baru yang mereka terima. Beberapa sekolah bahkan hanya kebagian dua atau tiga siswa baru.

You might be interested : abdul fikri faqih5Gaji Guru Diusulkan Rp30 Juta per Bulan, DPR: Usulan Baik, tapi….

Sementara di jenjang SMA, para orang tua mengeluhkan sulitnya mendapatkan sekolah negeri meski tahun ini pemerintah kembali mengubah skema penerimaan murid baru.

Terkait SD yang kekurangan siswa baru, anggota Komisi X DPR RI Abdul Fikri Faqih menilai fenomena ini harus direspons melalui penataan sistem pendidikan nasional secara menyeluruh.

Menurutnya, persoalan tersebut tidak dapat dipandang sebagai masalah masing-masing sekolah, melainkan membutuhkan kebijakan yang terintegrasi antarseluruh jenjang dan penyelenggara pendidikan.

"Kalau ini memang harus bersama. Makanya perguruan tinggi, kemudian pendidikan dasar dan menengah, kemudian pendidikan prasekolah, saatnya untuk bersama-sama," ujar Fikri sebagaimana dilansir Keidenesia.tv dari website resmi DPR RI, Rabu, 15 Juli 2026.

Politisi Fraksi PKS itu menjelaskan, seluruh penyelenggara pendidikan, baik negeri maupun swasta, perlu duduk bersama menyusun kebijakan yang saling terintegrasi.

Ia menilai sudah saatnya paradigma pengelolaan pendidikan yang berjalan sendiri-sendiri ditinggalkan agar distribusi peserta didik dapat berlangsung lebih proporsional.

Fikri juga mengingatkan bahwa perubahan demografi Indonesia perlu menjadi dasar dalam perumusan kebijakan pendidikan. Menurutnya, laju pertumbuhan penduduk yang mulai melambat menyebabkan jumlah anak usia sekolah tidak lagi bertambah secara signifikan, sehingga pemerintah perlu menyesuaikan perencanaan pendidikan dengan kondisi tersebut.

"Pertumbuhan jumlah penduduk juga kita sudah mulai melambat. Sehingga jumlah anak-anak kita semakin sedikit. Sementara usia harapan hidup semakin panjang. Ini harus kita sesuaikan dengan pendidikan. Pendidikan kita formatnya seperti apa," katanya.

Ia mengungkapkan, saat ini terdapat sekolah yang mengalami kelebihan peminat, sementara di sisi lain ada sekolah yang hanya memperoleh sedikit peserta didik baru.

Ketimpangan tersebut, menurutnya, menjadi indikator perlunya penataan distribusi peserta didik melalui kebijakan yang lebih terkoordinasi.

Lebih lanjut, Fikri menyoroti berbagai program pendidikan yang tengah dikembangkan pemerintah, seperti Sekolah Rakyat dan Sekolah Unggulan Garuda.

Bagi Fikri, program-program tersebut harus menjadi pelengkap untuk memperluas akses pendidikan, tanpa mengurangi perhatian terhadap sekolah-sekolah yang telah lebih dahulu beroperasi.

"Yang existing juga harus diperhatikan sehingga jangan sampai nanti dianggap gara-gara ini kemudian tidak ada atau berkurang. Tidak. Mesti seluruhnya benar," tegasnya.

Selain itu, Fikri menilai implementasi putusan Mahkamah Konstitusi terkait pembiayaan pendidikan dasar, termasuk bagi sekolah swasta, memerlukan perencanaan yang matang.

Pemerintah, ujarnya, perlu menyusun simulasi pembiayaan secara komprehensif agar kebijakan tersebut dapat diterapkan secara efektif tanpa menimbulkan persoalan baru.

Ia menegaskan, koordinasi yang lebih erat antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, serta seluruh penyelenggara pendidikan menjadi kunci dalam mewujudkan sistem pendidikan nasional yang adaptif terhadap perubahan demografi dan mampu menjamin pemerataan layanan pendidikan.

"Yang dibutuhkan sekarang adalah diskusi bersama. Jadi negeri, swasta, bahkan pendidikan keagamaan maupun yang dikelola kementerian lain harus dikoordinasikan agar sistem pendidikan nasional berjalan selaras," pungkasnya.

Font +
Font -

Related UPdates

Icon IDfinance
Memuat data finansial...
Icon IDweather
Memuat data cuaca...

New Videos

Quote of the Day

images (9)

Christopher Paolini

"Tanpa rasa takut, tidak akan ada keberanian."
Load More >