
UPdates—Serangan AS selama dua hari terakhir menewaskan sedikitnya 14 orang dan melukai 78 lainnya di Iran. Data itu disampaikan Kementerian Kesehatan Iran pada hari Kamis, 9 Juli 2026.
You may also like :
Anak, Menantu, Cucu Tewas, Khamenei Masih Tanda Tanya, Trump Klaim Terbunuh, Iran Membantah
Kepala Pusat Hubungan Masyarakat dan Informasi Kementerian Kesehatan Iran, Hossein Kermanpour dalam sebuah unggahan di X mengatakan Amerika Serikat menargetkan lima provinsi Iran dengan serangan pada tanggal 8 dan 9 Juli.
You might be interested :
Camden, Kota Paling Berbahaya di AS tanpa Kasus Pembunuhan Setelah 50 Tahun, Ini Resepnya
Sebagaimana dilansir Keidenesia.tv dari Anadolu, Hossein Kermanpour menyebut serangan tersebut mengakibatkan 14 kematian dan 78 luka-luka.
Sejauh ini, 47 dari korban luka masih dirawat di rumah sakit. Sementara korban lainnya telah dipulangkan setelah menerima perawatan medis.
Tiga korban tewas dalam serangan di dekat kota Ahvaz di barat daya, menurut kantor berita negara Iran, IRNA, yang mengutip Valiollah Hayati, wakil gubernur provinsi Khuzestan untuk urusan keamanan.
Angka korban terbaru ini muncul di tengah permusuhan yang kembali memanas antara AS dan Iran setelah runtuhnya gencatan senjata yang rapuh yang dicapai bulan lalu.
Eskalasi dimulai setelah AS menuduh Iran menyerang tiga kapal dagang yang melintasi Selat Hormuz, yang mendorong Washington untuk melancarkan serangkaian serangan terhadap target militer Iran di sepanjang pantai selatan Iran.
Komando Pusat AS mengatakan operasi tersebut menargetkan lebih dari 170 situs militer selama dua hari, termasuk sistem pertahanan udara, aset pengawasan pantai, infrastruktur rudal dan drone, kemampuan angkatan laut, dan fasilitas milik Korps Garda Revolusi Islam.
Mereka mengatakan serangan tersebut dimaksudkan untuk mencegah serangan lebih lanjut terhadap pelayaran internasional.
Iran telah menanggapi dengan serangan drone dan rudal yang menargetkan apa yang disebutnya sebagai fasilitas militer AS di Bahrain dan Kuwait.
Iran dan AS mencapai nota kesepahaman yang dimediasi Pakistan pada 17 Juni yang bertujuan untuk mengakhiri konflik militer mereka dan membuka jalan bagi perjanjian perdamaian yang langgeng.
Namun, pada hari Rabu, Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa nota kesepahaman tersebut "telah berakhir," yang secara efektif mengakhiri perjanjian tersebut dan memicu babak baru konfrontasi militer.