
UPdates—Presiden Prabowo Subianto menegaskan perbedaan adalah hal biasa dalam berbangsa. Ia juga menyatakan persaingan dalam pesta demokrasi lumrah dan mengecam pemimpin yang menganjurkan pembakaran ketika kalah bersaing.
You may also like :
Mardani Ali Ingatkan Pembahasan RUU Pemilu tidak Pakai Logika Untung Rugi
“Kita berbeda tidak ada masalah. Berbeda partai tidak ada masalah. Tiap sekian tahun kita bertanding dengan baik. Tidak ada masalah. Siapa yang menang monggo. Jangan kalau kalah mau bakar-bakar. Apa itu. Pemimpin yang menganjurkan bakar-bakar di republik ini itu adalah pemimpin pengkhianat. Saya percaya hukum karma akan kena kepada mereka semua itu,” ujarnya saat memberi sambutan dalam peringatan Hari Koperasi Nasional ke-79 di Jakarta, Minggu, 12 Juli 2026 sebagaimana dilansir dari YouTube Sekretariat Presiden.
You might be interested :
Program Cek Kesehatan Gratis harus Bebas Pungli
Menurut Prabowo, semua pihak harus bisa menerima hasil kontestasi politik. "Saya maju lima kali pemilihan. Empat kali kalah. Enggak pernah saya suruh anak buah saya bakar-bakar. Demo aja enggak. Saya datang pelantikan rival saya. Saya datang, saya hormat, saya kasih selamat,” tegasnya.
Ketua Partai Gerindra itu mengatakan, bersaing itu baik. “Pertandingan itu baik, iya kan? Sepak bola ada pertandingan, kan ada dua. Satu harus menang. Kalau satu kalah, masa wasitnya mau digebukin? ya, persaingan itu biasa," ujar Prabowo.
Prabowo lantas mencontohkan hubungannya dengan Muhaimin Iskandar alias Gus Imin yang sempat berpisah jalan secara politik dan kini mendampinginya di pemerintahan sebagai salah satu menteri.
"Ini Gus Imin, pertama bersama saya, habis itu tidak bersama saya. Tapi enggak ada masalah, karena dalam hati beliau, beliau juga ingin yang terbaik untuk Indonesia," jelas Prabowo.
"Dan sekarang beliau bersama saya untuk Indonesia, Saudara. Enggak ada masalah. Siapa lagi dulu yang ngalahin aku? Harus pakai kacamata ini saya ini. Tidak ada masalah," katanya.
Prabowo mengatakan setiap pihak yang bersaing harus bekerja sama setelah kontestasi politik berakhir.
"Kita ini satu bangsa, satu nusa, satu bahasa, kita ini satu keluarga. Buktikanlah bahwa bangsa Indonesia ini bangsa yang khas, bangsa yang bersatu. Kita bersaing, habis itu bersatu bekerja untuk seluruh rakyat. Inilah bangsa Indonesia," katanya.
"Jangan bisanya nyinyir, iya kan? Kalau Lu nggak setuju, Lu nggak mau bekerja, Lu duduk aja lihat baik-baik. Tapi kita terima kritik. Kita terima kritik. Kritik itu bagus. Itu artinya koreksi. Waspada. Kita mau terima kritik,” tandasnya.