
UPdates—Kementerian Luar Negeri Rusia mengumumkan rencana gelombang serangan jarak jauh massal baru di Kyiv, termasuk serangan yang menargetkan fasilitas militer dan apa yang digambarkan Moskow sebagai pusat pengambilan keputusan.
You may also like :
Rencana Kudeta, Mantan Presiden Brasil Bolsonaro Divonis 27 Tahun Penjara
Rusia menggambarkan serangan yang direncanakan sebagai pembalasan atas serangan Ukraina di Oblast Luhansk yang diduduki.
You might be interested :
Presiden Rusia Vladimir Putin Merasa Perang di Ukraina Segera Berakhir
Moskow mengklaim serangan itu mengenai asrama di kota Starobilsk, sementara Ukraina mengatakan serangan itu menargetkan fasilitas komando drone Rusia.
Menteri Luar Negeri Rusia, Sergey Lavrov dilaporkan sudah menelepon Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio pada 25 Mei waktu setempat dan mendesak Washington untuk mengevakuasi kedutaan, menurut pernyataan Kementerian Luar Negeri Rusia.
Menurut pernyataan Rusia, Lavrov memperingatkan Rubio tentang serangan sistematis dan konsisten di Kyiv dan merujuk pada rekomendasi sebelumnya dari Moskow agar misi diplomatik asing mengevakuasi personel dari ibu kota Ukraina.
Percakapan itu menandai kontak publik pertama yang diketahui antara kedua pejabat tersebut sejak 5 Mei, ketika mereka dilaporkan membahas upaya perdamaian yang dimediasi AS.
Setelah panggilan telepon itu, Rubio mengatakan dia menyampaikan pesan Lavrov kepada Presiden AS Donald Trump.
"Kyiv telah menjadi tempat yang berbahaya selama beberapa tahun. Bahaya dalam semua perang ini, seiring berlanjutnya perang, adalah selalu membawa ancaman eskalasi — menyebar ke sesuatu yang baru," kata Rubio kepada wartawan sebagaimana dilansir Keidenesia.tv dari Kyiv Independent, Selasa, 26 Mei 2026.
Para pemimpin dan diplomat Eropa mengisyaratkan bahwa mereka akan tetap berada di Kyiv meskipun ada peringatan dari Moskow, menolak apa yang mereka gambarkan sebagai upaya untuk mengintimidasi dan mengisolasi Ukraina.
Katarina Mathernova, duta besar Uni Eropa untuk Ukraina, mengatakan mereka tidak akan pergi ke mana pun.
"Kami tetap di Kyiv. Kami tetap bersama Ukraina," katanya di X.
Ancaman itu datang hanya sehari setelah salah satu serangan rudal dan drone massal terbesar Rusia di ibu kota, yang menewaskan dua orang dan melukai lebih dari 80 orang, dengan serangan tercatat di hampir setiap distrik kota.
Dalam pernyataan Kementerian Luar Negeri Rusia, warga negara asing, termasuk diplomat, didorong untuk meninggalkan kota, sementara warga sipil Ukraina diminta untuk menjauhi infrastruktur militer dan administrasi rezim Zelensky.
Presiden Volodymyr Zelensky sebelumnya memperingatkan bahwa Rusia berencana untuk menyerang apa yang disebut "pusat pengambilan keputusan," termasuk gedung Kantor Presiden di pusat Kyiv.