Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia (Foto: Kementerian ESDM)

Bahlil: Kita Bersyukur di Bawah Kepemimpinan Presiden Prabowo Indonesia Terbaik Kedua Dunia Ketahanan Energi

30 April 2026
Font +
Font -
Poin Penting Artikel
  • Indonesia berhasil menempati posisi kedua sebagai negara dengan ketahanan energi terbaik di dunia, berdasarkan laporan JP Morgan Asset Management.
  • Pencapaian ini patut disyukuri karena Indonesia mampu mempertahankan ketahanan energinya di tengah ketidakpastian pasokan energi global.
  • Produksi domestik minyak dan gas bumi yang cukup besar, serta produksi dan cadangan batubara yang memadai, menjadi faktor penunjang ketahanan energi Indonesia.
  • Pemerintah juga berhasil meningkatkan lifting minyak Indonesia, dengan target 610 ribu barel per hari pada tahun ini, dan menemukan potensi sumber daya gas sekitar 5 triliun kaki kubik di Kalimantan Timur.
  • Upaya pengurangan impor Bahan Bakar Minyak (BBM) juga dilakukan melalui pengembangan Biodiesel 50% (B50), yang ditargetkan akan diimplementasikan secara nasional pada 1 Juli 2026.
  • Dengan implementasi B50, Indonesia diperkirakan tidak lagi melakukan impor solar pertama sejak Republik ini berdiri, dan kebutuhan BBM solar dapat dipenuhi dari dalam negeri.
  • Pemerintah juga mencari substitusi untuk LPG, seperti Dimetil Eter (DME) dan Compressed Natural Gas (CNG), untuk mengurangi impor dan meningkatkan kemandirian energi.
atau

UPdates—Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia menyampaikan prestasi Indonesia sebagai negara dengan ketahanan energi terbaik kedua di dunia.

You may also like : golkar bahlil cs xLengkap! Ini Susunan Pengurus DPP Partai Golkar Periode 2024-2029

Menurut Bahlil, prestasi itu patut disyukuri karena dicapai meski dinamika kondisi geopolitik global saat ini memengaruhi pasokan energi di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia.

You might be interested : herman khaeron dprDiskon Tarif Listrik 50 Persen Batal, DPR Sindir Pemerintah

"Di tengah (kondisi) geopolitik itu melahirkan ketidakpastian terhadap seluruh pasokan energi global. Dan dunia hampir semua merasakan dampak ini. Dalam kondisi seperti ini, kita harus bersyukur di bawah kepemimpinan Presiden Bapak Prabowo Subianto yang notabenenya adalah alumni TNI, Indonesia dinilai oleh JP Morgan itu menjadi negara terbaik kedua di dunia yang mempunyai ketahanan energi," ujar Bahlil sebagaimana dilansir Keidenesia.tv dari website Kementerian ESDM, Kamis, 30 April 2026.

Prestasi tersebut berdasarkan laporan Eye on the Market yang dikeluarkan oleh JP Morgan Asset Management. Laporan tersebut menganalisis 52 negara konsumen energi terbesar yang mewakili sekitar 82 persen konsumsi energi dunia.

Indonesia menempati posisi kedua, di bawah Afrika Selatan dan satu tingkat di atas Tiongkok yang berada di posisi ketiga.

Indonesia dianggap sebagai negara yang tahan krisis energi yang terjadi saat ini karena produksi domestik minyak dan gas bumi (migas) yang cukup besar.

Ketahanan terhadap krisis juga disebabkan produksi dan cadangan batubara Indonesia yang masih dapat memenuhi kebutuhan dalam negeri.

Selain itu, potensi energi baru dan terbarukan yang besar di seluruh wilayah Indonesia juga mampu menopang kemandirian energi Indonesia.

Bahlil menyampaikan, dari subsektor migas ketahanan energi didukung oleh pencapaian lifting minyak Indonesia pada 2025 yang mencapai target APBN sebesar 605 ribu barel per hari (bph).

Tahun ini target ditingkatkan menjadi 610 ribu bph. Untuk meningkatkan produksi lifting, Pemerintah mendorong optimalisasi produksi melalui teknologi lanjutan, reaktivasi sumur idle, dan eksplorasi potensi migas di Indonesia Timur.

Temuan terbaru, hasil eksplorasi sumur Geliga-1 di Blok Ganal, lepas pantai Kalimantan Timur, mengungkap adanya potensi sumber daya gas sekitar 5 triliun kaki kubik (Tcf) serta 300 juta barel kondensat. Temuan ini berada di Wilayah Kerja (WK) Ganal yang dioperasikan ENI dan Sinopec.

"Satu tahun setengah kita melakukan eksplorasi, kita dapat lagi gas di Kalimantan Timur, namanya Geliga. Itu 5 TCF, 5 triliun mm. Dengan mendapatkan 300 juta kondensat, ekuivalen dengan 375 juta barel minyak. Ini akan produksi di 2028-2029," jelasnya.

Tak hanya lifting migas, Pemerintah juga terus berupaya untuk mengurangi impor Bahan Bakar Minyak (BBM), melalui pengembangan Biodiesel 50% (B50), yang ditargetkan akan diimplementasikan secara nasional pada 1 Juli 2026 mendatang. Hal ini akan berdampak signifikan pada pengurangan impor BBM nasional.

"Kebutuhan kita, BBM solar, pada tahun 2026, itu kita butuh kurang lebih sekitar 40 juta kiloliter. Dari 40 juta kiloliter ini, kita dengan B40 dan B50, Alhamdulillah mulai tahun 2026, tidak lagi kita melakukan impor solar pertama sejak Republik ini berdiri. Dari solar kita sudah tidak impor," jelas Bahlil.

Upaya pengurangan impor juga dilakukan untuk LPG, dengan mencari berbagai substitusi, di antaranya Dimetil Eter (DME) dan Compressed Natural Gas (CNG) yang saat ini sedang dikaji Pemerintah.

CNG sendiri sudah banyak dimanfaatkan oleh berbagai industri, seperti perhotelan, restoran, dan sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Gas (SPBG), yang bahan bakunya diperoleh dari dalam negeri.

Font +
Font -

New Videos

Related UPdates

Popular

Quote of the Day

russell

Bertrand Russell

"Perang tidak menentukan siapa yang benar, hanya siapa yang tersisa"
Load More >